BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
menghadapi kenyataan hidup manusia kadang tidak puas dengan apa yang ia
peroleh, terutama dalam hal kedudukan. Pada zaman Rasulullah pemerintahan umat
islam sangatlah bijaksana, sebab semua kepemimpinan dibawah naungan Rasulullah
dan para sahabat-sahabat Nabi SAW. Tapi, setelah nabi wafat para pemimpin justru
berkonflik tentang siapa yang akan menggantikan (khalafah) Nabi Muhammad SAW.
Banyak
para kelompok-kelompok yang saling berselisih tentang siapa yang pantas menjadi
khalifah, kadang juga berlawanan
dengan harapan anggota keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan
persiapan dan upacara pemakamannya, teman dan para pengikut Ali mendengar kabar
adanya kelompok lain yang pergi ke masjid “tempat umum berkumpul menghadapi
hilangnya pemimpin yang tiba-tiba.”
Kelompok ini, yang kemudian menjadi mayoritas,
bertindak lebih jauh dan sangat tergesa-gesa memilih pemimpin kaum muslimin
dengan tujuan menjaga kesejahteraan umat dan memecahkan masalah mereka saat
itu. Mereka melakukan hal itu tanpa berunding dengan ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat yang sibuk mengurus
pemakaman, dan sedikitpun tidak memberitahukan mereka. Dengan demikian,
teman-teman Ali dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tidak dapat berubah
lagi.
Berdasarkan
realitas itulah, muncul sikap dikalangan sebagian kaum muslimin yang menentang
kekhalifaan dan menolak kaum mayoritas dalam masalah-masalah kepercayaan
tertentu. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti Nabi dan penguassa keagamaan
yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoalan kerohanian dan
agama harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk
mengikutinya.Inilah yang kemudian disebut Syi’ah,
namun sebab munculnya Syi’ah terletak pada kenyataan bahwa kemungkinan ini ada
dalam wahyu islam sendiri,sehingga mesti diwujudkan.
Pada
fakta sejarah perpecahan dalam islamyang memang mulai mencolok pada masa
pemerintahan Ustman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada
masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin.
Didalam
bab selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut mengenai golongan Syi’ah dan sekte-sektenya.
B.
Tujuan Penulisan
1. Untuk melengkapi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
2. Untuk
memahami lebih dalam lagi akan golongan Syi’ah dan sejarah perkembangannya
3. Sebagai
bahan diskusi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Golongan Syi’ah
Kemunculan persoalan kalam dapat
dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin
Affan yang berlangsung pada penolakan Mu’awiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib. Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi
perang shiffin yang berakhir dengan keputusan tahkim. Sikap Ali yang
menerima tipu muslihat Amr bin Ash utusan dari pihak Mu’awiyah dalam
tahkim,sungguh sangtlah terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian pasukannya.Di
antara pasukan Ali pun terjadi pula pertentangan antara yang tetap setia kepada
Ali dan yang membangkang berdasarkan surat Al- Imran ayat 61:
عَنْكَ يَصُدُّونَ الْمُنَافِقِينَ رَأَيْتَ الرَّسُولِ وَإِلَى اللَّهُ
أَنْزَلَ مَا ﺍﻟﻰتَعَالَوْا لَهُمْ قِيلَ وَإِذَا
صُدُودًا
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul",
niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya
dari (mendekati) kamu.(Q.S.Al
Imran : 61)
Menurut
Ahmad Salaby ada 7 faktor yang
memungkinkan pertumbuhan Syi’ah,yaitu :
1. Ustman, dikarenakan sebagian kedudukan dan
kebijaksanaannya ditengah keluarganya telah menumbuhkan margaisme.
2. Kecenderungan emosional yang alami untuk mendukung, mencintai
dan membela keluarga Rasul.
3. Kepribadian Ali yang terkenal kepahlawanan yang tanpa
tanding pada masa penyebaran islam, ilmunya yang luas dan akhlaknya yang baik.
4. Pendapat umum menyatakan bahwa Ali tersisih dan
dijauhkan dari kedudukan khalifah yang sebetulnya pantas didudukinya.
5. Ali menjadikan Kufah sebagai ibu kota.
6. Pandangan tentang ’’ Devine Right ’’ (kebenaran
ilahiyah), yang beranggapan bahwa darah tuhan telah mengalir pada keluarga
raja, sehingga dengan demikian raja adalah pemilik kebenaran hukum dan rakyat
wajib menaatinya, serta penunjukan raja dari kalangan ini adalah kewajiban
suci.
7. Diantara pemberontakan (terhadap ustman) terlibat
orang-orang yang kalah oleh islam sehingga mereka ingin menghanjurkan islam
dengan berpura-pura masuk islam, sehingga mereka dapat memberontak kepada islam
dengan hadist-hadist buatan mereka. Dan pemimpin mereka adalah Abdullah bin
Saba’.
B. Kelompok-kelompok
Syi’ah
Golongan
Syi’ah sendiri terdiri dari lima kelompok besar, yaitu :
1. Golongan Kisaniyah
Pendiri kelompok kisaniyah adalah
Kisan seorang mantan pelayan Ali bin Abi Thalib, Kisan juga pernah belajar
kepada Muhammad bin Hanafiyah,karena itu ilmu pengetahuannya mencakup segala
macam ilmu pengetahuan,baik pengetahuan takwil maupun pengetahuan batil,baik
pengetahuan fisik maupun non fisik.
Mereka berpendapat bahwa agama
merupakan ketaatan terhadap pemimpin (imam),karena para imam dapat mengajarkan
pokok-pokok agama seperti sholat, puasa, dan haji. Bahkan sebagian dari mereka
ada yang meninggalkan perintah agama dan merasa cukup denga menaati para imam.
Sebagian lagi ada yang lemah keyakinan terhadap hari kiamat, menganut hulul
(roh ketuhanan masuk kedalam tubuh manusia), tanasukh (roh berpindah dari tubuh
manusia ke manusia lainnya).
Dengan demikian mereka sepakat
bahwa agama merupakan ketaatan kepada imam, dan barangsiapa yang tidak taat
kepada imam berarti dia bukanlah orang yang beragama.
2. Golongan Al-Zaidiyah
Al-Zaidiyah adalah para pengikut
Zaid ibnu Ali ibnu Husain ibnu ‘Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka imamah hanya
berada ditangan keturunan Fatimah dan tidak ada imamah selain dari mereka.
Namun menurut mereka setiap keturunan Fatimah yang alim, pemberani, pemurah dan
telah menyatakan dirinya menjadi imam maka ia adalah yang sah dan wajib ditaati
baik berasal dari keturunan Hasan maupun Husain.
3. Golongan Al-imamiyah
Imamiyah
adalah kelompok Syi’ah yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib secara nash
dinyatakan sebagai imam bukan hanya disebut sifatnya bahkan ditunjuk orangnya.
Tidak ada yang terpenting dalam ajaran agama dan islam selain dari menunjuk
imam karenanya Rasulullah sampai akhir hayatnya selalu mengurus urusan umat dan
tidak boleh membiyarkan umat mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Karena itu
wajib mengangkat seorang yang perkataannya ditaati umat Ali Bin Abi Thalib
telah ditunjuk dalam beberapa nash baik secara tersurat maupun tersirat.
4. Al- Ghaliyyah (Ekstrim)
Al-Ghaliyah
adalah golongan ekstrim yang berlebihan dalam memberikan sifat para imam yang
akhirnya menghilangkan sifat kemanusiaan pada diri para imam. Mereka
menempatkan kedudukan imam sama dengan tuhan, bahkan terkadang mereka
menyerupakan imam dengan tuhan.
Mereka
juga menyamakan tuhan dengan makhluk , mereka sangat berlebihan dan keyakinan
ini tumbuh dari madzhab hulul, inkarnasi, yahudi dan nasrani. Orang yahudi
menyamakan tuhan dengan manusia. Orang nasrani menyamakan manusia dengan tuhan,
penyamaan yang seperti ini berkembang di kalanan syi’ah ekstrim sehingga mereka
menetapkan sifat ketuhanan itu ada pada sebagian imam mereka. Penyamaan (tasybih) pada mulanya berasal dari syi’ah namun
sesudah itu sebagian dari mereka meninggalkan ajaran tersebut dan mengikuti
madhzab Ahl al-sunnah. Sebagian mereka menganut mu’tazilah dapat menerima
karena memang cocok dengan akal dan mereka menjauh dari ajaran tasibih dan
hulul.
5. Isma’iliyyah
Isma’iliyah mengakui imama ismail ibn ja’far
ialah putra ja’far ash-shadiq yang menurut mereka ditetapkan sebagai imam
menurut taqdir Allah menurut mereka
ja’far Ash-shadiq tidak pernah kawin dengan seorang wanita dan tidak pernah
mengambil jariah selama ibu isma’il masih hidup.
Dari
beberapa uraian dapat ditegaskan bahwa syi’ah pada mulanya merupakan gerakan
politik murni yang berpandanan bahwa ahlul baitlah (’Ali dan keturunannya)yang
paling berhak meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammmad SAW.
C. Doktrin-doktrin Syi’ah
Paham syi’ah memiliki sejumlah doktrin
penting yang terutama berkaitan dengan masalah imamah :
1. Ahlul bait (ahl al– bait )
Ahlu al-bait, adalah mereka yang paling dekat dengan seseorang.Sedangkan ahl
al-bait rasulullah seperti yang di riwayatkan dari Zaid bin arqam dapat
didefinisikan sebaai “istri-istri rasul dan orang-orang yang di haramkan
menerima shodaqoh dan zakat sepeninggal Rasul. Mereka adalah orang-orang yang
ditetapkan Allah dalam al-Qur’an memiliki hak atas fa’i dan kamus.
Kenyataan tentang
masuknya istri-istri Rasul dalam komunitas Ahlu al-Bait adalah istri-istri
Rasul agar tetap dirumah dan keluar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan
oleh syara’. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
Yang dimaksud jahiliyah yang dahulu ialah jahiliyah
kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad saw,sedangkan yang dimaksud
jahiliyah sekarang ialah jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya
islam.
2. Al-Bada’
Doktrin
al-Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah sesuatu peraturan atau
keputusan yang telah di tetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru.
Menurut syi’ah keputusan allah itu bukan karna Allah SWT baru mengetahui
sesuatu maslahat , yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. Namun karena perubahan
itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah SWTmemutuskan suatu
perkara sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya. Misalnya keputusan Allah
SWT menggantikan Ismail AS dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan
Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS.
3. Asura
Asura
adalah hari kesepuluh dalam bulan muharram yang di peringati kaum syi’ah
sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain Bin Ali dan
keluarganya ditangan pasukan Yazid Bin Muawiyah Bin Abi Sufyan. Pada tahun 61 H
di Karbala Irak
4. Imamah (kepemimpinan)
Imamah
adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW
wafat harus ada pemimpin-pemimpin islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi
Muhammad SAW.
5. Al-Ismah
Dimaksudkan bahwa para imam mestilah ma’shum, yakni tidak mungkin
berbuat dosa besar atau kecil, tidak mungkin keliru dan lupa lahir batin, baik
sebelum menjadi imam maupun telah menjadi imam.
6. Mahdawiyah
Mahdawiyah berasal dari kata mahdi yang berarti keyakinan akan datangnya seorang
juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan manusiadi muka bumi. Juru
selamat ini di sebut Imam Mahdi.
7. Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinanakan di hidupkannya kembali sejumlah hamba Allah SWT
yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah SWT yang paling durhaka untuk
membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah
SWT dimuka bumi, bersamaan dengan bermunculnya Imam Mahdi.
8. Mrja’iyah atau Wilayah al-Faqih
Wilayah al-Faqih mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqoha’.
8.
Al-Taqiyah
Taqiyah adalah sikap berhati-hati dalam menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang akan menimpa dirinya.
Taqiyah adalah sikap berhati-hati dalam menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang akan menimpa dirinya.
10. Tawasul
Maksudnya adalah memohon sesuatu
kepada Allah SWT dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang nabi, imam,
atau bahkan seorang wali supaya do’anya tersebut cepat di kabulkan Allah SWT.
11. Tawalli dan
Tabarri
Tawalli dimaksudkan sebagai sikap keberpihakan kepada ahlu al-bait, mencintai
mereka, patuh kepada perintah-perintah mereka, dan menjauhi segala larangan
mereka. Adapun Tabarri di maksudkan sebagai sikap menjauhkan diri atau
melepaskan diri dari musuh-musuh ahlul bait, menganggap mereka sebagai
musuh-musuh Allah SWT, membenci mereka, dan menolak segala yang datang dari
mereka.
D. Kesesatan dan
Penyimpangan Syi’ah
Beberapa kesesatan yang penyimpangan
mereka antara lain :
1. Imam adalah orang yang ma’sum (terjaga dari
perbuatan dosa).
2. Mereka yang tidak beriman terhadap otoritas Imam Dua
Belas adalah Kafir.
3. Menegakkan imamah merupakan rukun agama.
4. Menolak hadits yang tidak diriwatkan oleh Ahlul Bait
(keluarga Nabi) atau sebagian sahabat yang loyal kepada Ali bin Abi Thalib.
5. Sangat percaya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni)
memusuhi Ahlul Bait.
6. Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kumpulan orang-orang
yang najis,yang darah dan harta mereka halal hukumnya.
7. Tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar bin
Khattab, Usman bin Affan.
8. Menghalalkan nikah mut’ah, padahal sebenarnya nikah
mut’ah itu dilarang oleh Rasulullah SAW, sebagaimana perkataanya sayidina Ali
RA.
.خَيْبَرَزَمَنَ اْلاَهْلِيَّةِ
لحُمُرِ لُحُوْمِ
عَنْ وَ اْلمُتْعَةِ نِكَاحِ عَنْ نَهَى ص اللهِ رَسُوْلَ اَنَّ رض عَلِيٍّ عَنْ
مسلم و
لبخارىو احمد
.سِيَّةِاْلاِنْلحُمُرِﺍ
لُحُوْمِ عَنْ
وَ خَيْبَرَ يَوْمَ النِّسَاءِ مُتْعَةِ عَنْ نَهَى :رواية فى و
Dari Ali RA,
bahwasanya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan daging himar jinak pada
waktu perang Khaibar. Dan dalam satu riwayat (dikatakan), “Rasulullah SAW
melarang kawin mut’ah pada masa perang Khaibar dan (melarang makan) daging
himar piaraan”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
9. Menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong
dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk
mengelabui.
10. Percaya kepada al-raj’ah,yaitu kembalinya
roh-roh ke jasadnya masing-masing di dinia ini sebelum kiamat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
perkembangan pemerintahan islam setelah Nabi
Muhammad telah mengalami banyak konflik-konflik,terutama dalam hal menggantikan
kepemimpinan Nabi SAW. Islam pun terpecah menjadi beberapa golongan, salah satu
golongan itu adalah Syi’ah ,aliran Syi’ah yang dibawa oleh Abdullah bin
Saba’ seorang yahudi asal Yaman. Wajar jika dia sangat membenci islam dan kaum
muslimin.
Pada
kebenciannya itulah yang membuatnya berusaha keras memecah belah persatuan umat
dengan berpura-pura masuk islam. Melalui lisannya keluar hadits-hadits palsu
yang menunjukkan bahwa yang lebih berhak menjadi kholifah setelah Nabi Muhammad
adalah Ali bin Abi Thalib. Juga sebagai pencetus aqidah Syi’ah.disembah. Ali bin
Abi Thalib sendiri sempat akan membunuhnya atas isu-isu kesesatannya jika saja
tidak dicegah oleh Abdullah bin Abbas.
Maka
jelaslah bahwa Syi’ah atau Sabaisme merupakan sebuah rekayasa persembahan dari
konspirasi agama yang dijalankan oleh Yahudi. Dengan demikian ide penyatuan
mazhab antara Ahlissunnah wal Jama’ah (sunni) dan Syi’ah adalah suatu
hal yang sia-sia. Karena Syi’ah bukanlah bagian dari islam, melainkan sebuah
nama dari agama islam.
Dalam
pandangan Syi’ah ,Al-Qur’an (Mushaf Ustmani) yang ada sekarang adalah
palsu karena didalamnya terdapat perubahan-perubahan. Mereka mengklaim bahwa
yang asli adalah Mushaf Fathimiyah yang akan turun kembali ke dunia dan
dibawah oleh imam mereka yang ke-12, yaitu Imam Mahdi.
Beberapa
kesesatan yang penyimpangan mereka antara lain :
1. Imam adalah orang yang ma’sum (terjaga dari
perbuatan dosa).
2. Mereka yang tidak beriman terhadap otoritas Imam Dua
Belas adalah Kafir.
3. Menegakkan imamah merupakan rukun agama.
4. Menolak hadits yang tidak diriwatkan oleh Ahlul Bait
(keluarga Nabi) atau sebagian sahabat yang loyal kepada Ali bin Abi Thalib.
5. Sangat percaya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni)
memusuhi Ahlul Bait.
6. Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kumpulan orang-orang
yang najis,yang darah dan harta mereka halal hukumnya.
7. Tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar bin
Khattab, Usman bin Affan.
8. Menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak)
9. Menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong
dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk
mengelabui.
10. Percaya kepada al-raj’ah,yaitu kembalinya
roh-roh ke jasadnya masing-masing di dinia ini sebelum kiamat.
DAFTAR
PUSTAKA
Tim Penyusun MKD IAIN. 2012.Ilmu Kalam, Surabaya, IAIN Sunan Ampel
Press
Rozaq, Abdul,Dr. dan
Anwar Rosihon, Dr. 2007.Ilmu Kalam, Bandung,
Pustaka Setia
Riznanto, Ahmad. 2008. Mereka Menodai Islam, Jakarta Timur,
Mihrab
file://localhost/G:/12-nikah-mutah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar