Sabtu, 02 Februari 2013

SYI'AH

BAB 1
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
                     Dalam menghadapi kenyataan hidup manusia kadang tidak puas dengan apa yang ia peroleh, terutama dalam hal kedudukan. Pada zaman Rasulullah pemerintahan umat islam sangatlah bijaksana, sebab semua kepemimpinan dibawah naungan Rasulullah dan para sahabat-sahabat Nabi SAW. Tapi, setelah nabi wafat para pemimpin justru berkonflik tentang siapa yang akan menggantikan (khalafah) Nabi Muhammad SAW.
                     Banyak para kelompok-kelompok yang saling berselisih tentang siapa yang pantas menjadi khalifah, kadang juga berlawanan dengan harapan anggota keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan persiapan dan upacara pemakamannya, teman dan para pengikut Ali mendengar kabar adanya kelompok lain yang pergi ke masjid “tempat umum berkumpul menghadapi hilangnya pemimpin yang tiba-tiba.”
                      Kelompok ini, yang kemudian menjadi mayoritas, bertindak lebih jauh dan sangat tergesa-gesa memilih pemimpin kaum muslimin dengan tujuan menjaga kesejahteraan umat dan memecahkan masalah mereka saat itu. Mereka melakukan hal itu tanpa berunding dengan ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat yang sibuk mengurus pemakaman, dan sedikitpun tidak memberitahukan mereka. Dengan demikian, teman-teman Ali dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tidak dapat berubah lagi.
                     Berdasarkan realitas itulah, muncul sikap dikalangan sebagian kaum muslimin yang menentang kekhalifaan dan menolak kaum mayoritas dalam masalah-masalah kepercayaan tertentu. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti Nabi dan penguassa keagamaan yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoalan kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya.Inilah yang kemudian disebut Syi’ah, namun sebab munculnya Syi’ah terletak pada kenyataan bahwa kemungkinan ini ada dalam wahyu islam sendiri,sehingga mesti diwujudkan.
                     Pada fakta sejarah perpecahan dalam islamyang memang mulai mencolok pada masa pemerintahan Ustman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah Perang Shiffin.
       Didalam bab selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut mengenai golongan Syi’ah dan sekte-sektenya.
                       
B.   Tujuan Penulisan
       1.  Untuk melengkapi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
       2. Untuk memahami lebih dalam lagi akan golongan Syi’ah dan sejarah perkembangannya
       3. Sebagai bahan diskusi


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Golongan Syi’ah
                        Kemunculan persoalan kalam dapat dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan yang berlangsung pada penolakan Mu’awiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi perang shiffin yang berakhir dengan keputusan tahkim. Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Ash utusan dari pihak Mu’awiyah dalam tahkim,sungguh sangtlah terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian pasukannya.Di antara pasukan Ali pun terjadi pula pertentangan antara yang tetap setia kepada Ali dan yang membangkang berdasarkan surat Al- Imran ayat 61:
عَنْكَ يَصُدُّونَ الْمُنَافِقِينَ رَأَيْتَ الرَّسُولِ وَإِلَى اللَّهُ أَنْزَلَ مَا ﺍﻟﻰتَعَالَوْا لَهُمْ قِيلَ وَإِذَا
صُدُودًا
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(Q.S.Al Imran : 61)
                        Menurut Ahmad Salaby ada 7 faktor yang memungkinkan pertumbuhan Syi’ah,yaitu :
1. Ustman, dikarenakan sebagian kedudukan dan kebijaksanaannya ditengah keluarganya telah menumbuhkan margaisme.
2.      Kecenderungan emosional yang alami untuk mendukung, mencintai dan membela keluarga Rasul.
3.   Kepribadian Ali yang terkenal kepahlawanan yang tanpa tanding pada masa penyebaran islam, ilmunya yang luas dan akhlaknya yang baik.
4.  Pendapat umum menyatakan bahwa Ali tersisih dan dijauhkan dari kedudukan khalifah yang sebetulnya pantas didudukinya.
5.      Ali menjadikan Kufah sebagai ibu kota.
6.    Pandangan tentang ’’ Devine Right ’’ (kebenaran ilahiyah), yang beranggapan bahwa darah tuhan telah mengalir pada keluarga raja, sehingga dengan demikian raja adalah pemilik kebenaran hukum dan rakyat wajib menaatinya, serta penunjukan raja dari kalangan ini adalah kewajiban suci.
7.   Diantara pemberontakan (terhadap ustman) terlibat orang-orang yang kalah oleh islam sehingga mereka ingin menghanjurkan islam dengan berpura-pura masuk islam, sehingga mereka dapat memberontak kepada islam dengan hadist-hadist buatan mereka. Dan pemimpin mereka adalah Abdullah bin Saba’.

B.   Kelompok-kelompok Syi’ah
       Golongan Syi’ah sendiri terdiri dari lima kelompok besar, yaitu :
        1.  Golongan Kisaniyah                          
                           Pendiri kelompok kisaniyah adalah Kisan seorang mantan pelayan Ali bin Abi Thalib, Kisan juga pernah belajar kepada Muhammad bin Hanafiyah,karena itu ilmu pengetahuannya mencakup segala macam ilmu pengetahuan,baik pengetahuan takwil maupun pengetahuan batil,baik pengetahuan fisik maupun non fisik.
                           Mereka berpendapat bahwa agama merupakan ketaatan terhadap pemimpin (imam),karena para imam dapat mengajarkan pokok-pokok agama seperti sholat, puasa, dan haji. Bahkan sebagian dari mereka ada yang meninggalkan perintah agama dan merasa cukup denga menaati para imam. Sebagian lagi ada yang lemah keyakinan terhadap hari kiamat, menganut hulul (roh ketuhanan masuk kedalam tubuh manusia), tanasukh (roh berpindah dari tubuh manusia ke manusia lainnya).
                           Dengan demikian mereka sepakat bahwa agama merupakan ketaatan kepada imam, dan barangsiapa yang tidak taat kepada imam berarti dia bukanlah orang yang beragama.
        2.  Golongan Al-Zaidiyah
                           Al-Zaidiyah adalah para pengikut Zaid ibnu Ali ibnu Husain ibnu ‘Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka imamah hanya berada ditangan keturunan Fatimah dan tidak ada imamah selain dari mereka. Namun menurut mereka setiap keturunan Fatimah yang alim, pemberani, pemurah dan telah menyatakan dirinya menjadi imam maka ia adalah yang sah dan wajib ditaati baik berasal dari keturunan Hasan maupun Husain.
        3.  Golongan Al-imamiyah
                           Imamiyah adalah kelompok Syi’ah yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib secara nash dinyatakan sebagai imam bukan hanya disebut sifatnya bahkan ditunjuk orangnya. Tidak ada yang terpenting dalam ajaran agama dan islam selain dari menunjuk imam karenanya Rasulullah sampai akhir hayatnya selalu mengurus urusan umat dan tidak boleh membiyarkan umat mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Karena itu wajib mengangkat seorang yang perkataannya ditaati umat Ali Bin Abi Thalib telah ditunjuk dalam beberapa nash baik secara tersurat maupun tersirat.
        4.  Al- Ghaliyyah (Ekstrim)
                           Al-Ghaliyah adalah golongan ekstrim yang berlebihan dalam memberikan sifat para imam yang akhirnya menghilangkan sifat kemanusiaan pada diri para imam. Mereka menempatkan kedudukan imam sama dengan tuhan, bahkan terkadang mereka menyerupakan imam dengan tuhan.
                           Mereka juga menyamakan tuhan dengan makhluk , mereka sangat berlebihan dan keyakinan ini tumbuh dari madzhab hulul, inkarnasi, yahudi dan nasrani. Orang yahudi menyamakan tuhan dengan manusia. Orang nasrani menyamakan manusia dengan tuhan, penyamaan yang seperti ini berkembang di kalanan syi’ah ekstrim sehingga mereka menetapkan sifat ketuhanan itu ada pada sebagian imam mereka. Penyamaan  (tasybih) pada mulanya berasal dari syi’ah namun sesudah itu sebagian dari mereka meninggalkan ajaran tersebut dan mengikuti madhzab Ahl al-sunnah. Sebagian mereka menganut mu’tazilah dapat menerima karena memang cocok dengan akal dan mereka menjauh dari ajaran tasibih dan hulul.
        5. Isma’iliyyah
                            Isma’iliyah mengakui imama ismail ibn ja’far ialah putra ja’far ash-shadiq yang menurut mereka ditetapkan sebagai imam menurut taqdir Allah menurut  mereka ja’far Ash-shadiq tidak pernah kawin dengan seorang wanita dan tidak pernah mengambil jariah selama ibu isma’il masih hidup.
                           Dari beberapa uraian dapat ditegaskan bahwa syi’ah pada mulanya merupakan gerakan politik murni yang berpandanan bahwa ahlul baitlah (’Ali dan keturunannya)yang paling berhak meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammmad SAW.

C.    Doktrin-doktrin Syi’ah
        Paham syi’ah memiliki sejumlah doktrin penting yang terutama berkaitan dengan masalah imamah :
        1.  Ahlul bait (ahl  al– bait )
                           Ahlu al-bait, adalah mereka yang paling dekat dengan seseorang.Sedangkan ahl al-bait rasulullah seperti yang di riwayatkan dari Zaid bin arqam dapat didefinisikan sebaai “istri-istri rasul dan orang-orang yang di haramkan menerima shodaqoh dan zakat sepeninggal Rasul. Mereka adalah orang-orang yang ditetapkan Allah dalam al-Qur’an memiliki hak atas fa’i dan kamus.
                           Kenyataan tentang masuknya istri-istri Rasul dalam komunitas Ahlu al-Bait adalah istri-istri Rasul agar tetap dirumah dan keluar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara’. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
                           Yang dimaksud  jahiliyah yang dahulu ialah jahiliyah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad saw,sedangkan yang dimaksud jahiliyah sekarang ialah jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya islam.
        2.  Al-Bada’
                           Doktrin al-Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah sesuatu peraturan atau keputusan yang telah di tetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut syi’ah keputusan allah itu bukan karna Allah SWT baru mengetahui sesuatu maslahat , yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. Namun karena perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah SWTmemutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya. Misalnya keputusan Allah SWT menggantikan Ismail AS dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS.
        3.  Asura
                           Asura adalah hari kesepuluh dalam bulan muharram yang di peringati kaum syi’ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain Bin Ali dan keluarganya ditangan pasukan Yazid Bin Muawiyah Bin Abi Sufyan. Pada tahun 61 H di Karbala Irak
        4.  Imamah (kepemimpinan)
                           Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat harus ada pemimpin-pemimpin islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi Muhammad SAW.
        5.  Al-Ismah
                           Dimaksudkan bahwa para imam mestilah ma’shum, yakni tidak mungkin berbuat dosa besar atau kecil, tidak mungkin keliru dan lupa lahir batin, baik sebelum menjadi imam maupun telah menjadi imam.
        6.  Mahdawiyah
                           Mahdawiyah berasal dari kata mahdi yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan manusiadi muka bumi. Juru selamat ini di sebut Imam Mahdi.
        7.  Raj’ah
                           Raj’ah adalah keyakinanakan di hidupkannya kembali sejumlah hamba Allah SWT yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah SWT yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah  SWT dimuka bumi, bersamaan dengan bermunculnya Imam Mahdi.
        8.  Mrja’iyah atau Wilayah al-Faqih
                           Wilayah al-Faqih mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqoha’.
8.    Al-Taqiyah
Taqiyah
adalah sikap berhati-hati dalam menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang akan menimpa dirinya.
        10. Tawasul
            Maksudnya adalah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang nabi, imam, atau bahkan seorang wali supaya do’anya tersebut cepat di kabulkan Allah SWT.
        11. Tawalli dan Tabarri
                           Tawalli dimaksudkan sebagai sikap keberpihakan kepada ahlu al-bait, mencintai mereka, patuh kepada perintah-perintah mereka, dan menjauhi segala larangan mereka. Adapun Tabarri di maksudkan sebagai sikap menjauhkan diri atau melepaskan diri dari musuh-musuh ahlul bait, menganggap mereka sebagai musuh-musuh Allah SWT, membenci mereka, dan menolak segala yang datang dari mereka.

D. Kesesatan dan Penyimpangan Syi’ah
Beberapa kesesatan yang penyimpangan mereka antara lain :
1.      Imam adalah orang yang ma’sum (terjaga dari perbuatan dosa).
2.      Mereka yang tidak beriman terhadap otoritas Imam Dua Belas adalah Kafir.
3.      Menegakkan imamah merupakan rukun agama.
4.      Menolak hadits yang tidak diriwatkan oleh Ahlul Bait (keluarga Nabi) atau sebagian sahabat yang loyal kepada Ali bin Abi Thalib.
5.      Sangat percaya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) memusuhi Ahlul Bait.
6.      Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kumpulan orang-orang yang najis,yang darah dan harta mereka halal hukumnya.
7.      Tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan.
8.      Menghalalkan nikah mut’ah, padahal sebenarnya nikah mut’ah itu dilarang oleh Rasulullah SAW, sebagaimana perkataanya sayidina Ali RA.
.خَيْبَرَزَمَنَ اْلاَهْلِيَّةِ لحُمُرِ لُحُوْمِ عَنْ وَ اْلمُتْعَةِ نِكَاحِ عَنْ نَهَى ص اللهِ رَسُوْلَ اَنَّ رض عَلِيٍّ عَنْ
مسلم و لبخارىو احمد .سِيَّةِاْلاِنْلحُمُرِﺍ لُحُوْمِ عَنْ وَ خَيْبَرَ يَوْمَ النِّسَاءِ مُتْعَةِ عَنْ نَهَى :رواية فى و
Dari Ali RA, bahwasanya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan daging himar jinak pada waktu perang Khaibar. Dan dalam satu riwayat (dikatakan), “Rasulullah SAW melarang kawin mut’ah pada masa perang Khaibar dan (melarang makan) daging himar piaraan”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
9.      Menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabui.
10.  Percaya kepada al-raj’ah,yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dinia ini sebelum kiamat.




BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
            Pada perkembangan pemerintahan islam setelah  Nabi Muhammad telah mengalami banyak konflik-konflik,terutama dalam hal menggantikan kepemimpinan Nabi SAW. Islam pun terpecah menjadi beberapa golongan, salah satu golongan itu adalah Syi’ah ,aliran Syi’ah yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’ seorang yahudi asal Yaman. Wajar jika dia sangat membenci islam dan kaum muslimin.
            Pada kebenciannya itulah yang membuatnya berusaha keras memecah belah persatuan umat dengan berpura-pura masuk islam. Melalui lisannya keluar hadits-hadits palsu yang menunjukkan bahwa yang lebih berhak menjadi kholifah setelah Nabi Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib. Juga sebagai pencetus aqidah Syi’ah.disembah. Ali bin Abi Thalib sendiri sempat akan membunuhnya atas isu-isu kesesatannya jika saja tidak dicegah oleh Abdullah bin Abbas.
            Maka jelaslah bahwa Syi’ah atau Sabaisme merupakan sebuah rekayasa persembahan dari konspirasi agama yang dijalankan oleh Yahudi. Dengan demikian ide penyatuan mazhab antara Ahlissunnah wal Jama’ah (sunni) dan Syi’ah adalah suatu hal yang sia-sia. Karena Syi’ah bukanlah bagian dari islam, melainkan sebuah nama dari agama islam.
            Dalam pandangan Syi’ah ,Al-Qur’an (Mushaf Ustmani) yang ada sekarang adalah palsu karena didalamnya terdapat perubahan-perubahan. Mereka mengklaim bahwa yang asli adalah Mushaf Fathimiyah yang akan turun kembali ke dunia dan dibawah oleh imam mereka yang ke-12, yaitu Imam Mahdi.
                   Beberapa kesesatan yang penyimpangan mereka antara lain :
1.      Imam adalah orang yang ma’sum (terjaga dari perbuatan dosa).
2.      Mereka yang tidak beriman terhadap otoritas Imam Dua Belas adalah Kafir.
3.      Menegakkan imamah merupakan rukun agama.
4.      Menolak hadits yang tidak diriwatkan oleh Ahlul Bait (keluarga Nabi) atau sebagian sahabat yang loyal kepada Ali bin Abi Thalib.
5.      Sangat percaya bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) memusuhi Ahlul Bait.
6.      Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kumpulan orang-orang yang najis,yang darah dan harta mereka halal hukumnya.
7.      Tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan.
8.      Menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak)
9.      Menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabui.
10.  Percaya kepada al-raj’ah,yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dinia ini sebelum kiamat.

           


DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun MKD IAIN. 2012.Ilmu Kalam, Surabaya, IAIN Sunan Ampel
Press   
Rozaq, Abdul,Dr. dan Anwar Rosihon, Dr. 2007.Ilmu Kalam, Bandung, Pustaka Setia
Riznanto, Ahmad. 2008. Mereka Menodai Islam, Jakarta Timur, Mihrab

file://localhost/G:/12-nikah-mutah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar