A. Pengertian Mahabbah
Mahabbah atau al-hubb adalah suatu
kecintaan yang ditujukan kepada Allah SWT. Dimana di dalamnya terdapat
proses mengenal (ma’rifat). Mahabbah berarti suatu wujud cinta yang hanya
kepada Allah, dimana seluruh jiwanya dipenuhi oleh rasa cinta
kepada Allah karena kesempurnaan-Nya.
Firman Allah yang menjadi dasar
adanya Mahabbah antara makhluk dengan khaliq-Nya terdapat di Al-Qur’an Surat
Ali Imran ayat 31 :
قل ان كنتم تحبّون اللّه فاتّبعونى يحببكم اللّه و يغفر لكم ذنوبكم
و اللّه غفور رحيم
Artinya
: Katakanlah : “ jika kamu ( benar-benar ) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan menggampuni dosa-dosamu“. Allah Maha pengasih lagi
Maha penyayang”.
Keutamaan mahabbah juga dijelaskan
oleh Rasulullah dalam haditsnya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a: Seorang
lelaki yang berasal dari pedalaman bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Bilakah
berlakunya Kiamat? Rasulullah s.a.w bersabda: Apakah persediaan kamu untuk
menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu akan tetap bersama orang yang kamu cintai”.
Selain itu Mahabbah dapat
mengantarkan hamba yang memiliki kecintaan tersebut di antara penghuni langit.
Sebab para malaikat akan selalu mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah
atas kedekatannya dengan-Nya, juga karena mereka selalu memenuhi perintah
Allah”.
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa
mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Kecenderungan yang dimaksud
oleh al-Ghazali adalah kecenderungan kepada Allah, karena bagi kaum sufi
mahabbah yang sebenarnya bagi mereka hanyalah mahabbah kepada Allah. Hal ini
dapat di lihat dalam ucapannya, “Barang siapa yang mencintai sesuatu tanpa ada
kaitannya dengan mahabbah kepada Allah maka itu adalah suatu kebodohan dan kesalahan
karena hanya Allah yang berhak dicintai”.
Harun Nasution mengemukakan bahwa
Mahabbah mempunyai beberapa pengertian :
1. Memeluk dan mematuhi perintah Allah,
dan membenci sifat yang melawan Allah.
2. Berserah diri kepada Allah.
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya
kecuali Allah SWT.
Pengertian tersebut sesuai dengan
tingkatan kaum muslimin, namun tidak semuanya mampu menjalani hidup kesufian,
bahkan hanya sedikit saja yang menjalaninya. Sejalan dengan itu Abu Nasr
As-Sarraj Ath-Thusi seorang tokoh sufi terkenal membagi Mahabbah menjadi 3
tingkatan:
1.
Mahabbah orang biasa, yaitu selalu mengingat Allah dengan dzikir,
memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya.
2.
Mahabbah orang yang siddiq (الصديق), yaitu orang yang mengenal Allah tentang
kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup
menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri sebab hatinya penuh dengan perasaan
cinta kepada Allah dan selalu rindu kepada Allah.
3.
Mahabbah orang yang ‘arif (العارف), yaitu cintanya orang yang telah sempurna
ma’rifatnya dengan Allah. Mahabbah orang arif ini, yang dilihat dan
dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yang damai.
Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa, Mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Allah
dengan sepenuh hati, sehingga sifat-sifat yang dicintai (Allah) masuk kedalam
diri yang mencintai. Tujuan Mahabbah adalah untuk memperoleh kesenangan
batiniah yang sulit dilukiskan oleh kata-kata, tetapi hanya dirasakan oleh jiwa.
Adapun cara-cara untuk dapat menuju
Mahabbah dan Ma’rifat adalah :
1.
Tobat, baik dari dosa besar maupun dosa kecil.
2.
Zuhud, yaitu mengasingkan diri dari dunia ramai.
3.
Wara’, mencoba meninggalkan segala yg di dalamnya terdapat shubhat.
4.
Faqir, hidup sebagai orang fakir.
5.
Sabar, dalam menghadapi segala macam cobaan.
6.
Tawakkal, menyeru sebulat-bulatnya pada keputusan Tuhan.
7.
Ridha, merasa senang menerima segala takdir.
Tokoh Tasawuf Mahabbah
Aliran sufi Mahabbah di
pelopori dan dikembangkan oleh seorang sufi wanita bernama Rabi’ah Al-Adawiyah,
ia lahir di Basrah (Irak) pada tahun 95 H/713 M dan meninggal pada
tahun 185 H/801. Meski ia hidup di basrah sebagai seorang hamba sahaya. Hal itu
tidak menghalanginya untuk tumbuh menjadi seorang sufi yang disegani di
zamannya, bahkan hingga zaman modern sekarang ini.
Rabi’ah Al Adawiyah tergolong dalam
kelompok sufi periode awal. Ia memperkaya literature Islam dengan kisah-kisah
pengalaman mistiknya dalam sajak-sajak berkualitas tinggi. Rabi’ah dipandang
sebagai pelopor tasawuf mahabbah, yaitu penyerahan diri total kepada “kekasih”
(Allah) dan ia pun dikenang sebagai ibu para sufi besar (The Mother of The
Grand Master). Hakikat tasawufnya adalah habbul-ilāh (mencintai Allah SWT).
Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut akan siksa neraka atau
rasa penuh harap akan pahala atau surga, melainkan semata-mata terdorong oleh
rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami keindahan–Nya yang azali. Mahabbah
Rabi’ah merupakan versi baru dalam masalah ubudiyah kedekatan pada Tuhan.
Rabi’ah adalah seorang
zahidah sejati. Memeluk erat kemiskinan demi cintanya pada Allah. Lebih memilih
hidup dalam kesederhanaan. Definisi cinta menurut Rabi’ah adalah cinta seorang
hamba kepada Allah Tuhannya. Ia mengajarakan bahwa yang pertama, cinta itu
harus menutup yang lain, selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta, yaitu bahwa
seorang sufi harus memalingkan punggungnya dari masalah dunia serta segala daya
tariknya. Sedangkan yang kedua, ia mengajarkan bahwa cinta tersebut yang
langsung ditujukan kepada Allah dimana mengesampingkan yang lainnya, harus
tidak ada pamrih sama sekali. Ia harus tidak mengharapkan balasan apa-apa.
Dengan Cinta yang demikian itu, setelah melewati tahap-tahap sebelumnya,
seorang sufi mampu meraih ma’rifat sufistik dari “hati yang telah dipenuhi oleh
rahmat-Nya”. Pengetahuan itu datang langsung sebagai pemberian dari Allah dan
dari ma’rifat inilah akan mendahului perenungan terhadap Esensi Allah tanpa hijab.
Rabi’ah merupakan orang pertama yang membawa ajaran cinta sebagai sumber
keberagamaan dalam sejarah tradisi sufi Islam.
Cinta Rabi’ah merupakan
cinta yang tidak mengharap balasan. Justru, yang dia tempuh adalah perjalan
mencapai ketulusan. Sesuatu yang diangap sebagai ladang subur bagi pemuas rasa
cintanya yang luas, dan sering tak terkendali tersebut. Lewat sebuah doa yang
mirip syair, ia berujar:
Wahai Tuhanku, jika aku
menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di neraka. Jika aku menyembah-Mu
karena surga, jangan masukkan ke dalamnya. Tapi, jika aku menyembah-Mu demi
Engkau semata, jangan sembunyikan dariku keindahan abadi-Mu.
Dalam fase selanjutnya, hidup
Rabia'ah hanya diisi dengan dzikir, tilawah, dan wirid. Duduknya hanya untuk
menerima kedatangan muridnya yang terdiri dari kaum sufi yang memohon restu dan
fatwanya. Rabi'ah berusaha mengajarkan generasi Muslim sesudahnya sehingga
mereka mampu mengangkat derajat mereka dari nafsu rendah. Sebab kondisi
masyarakat Basrah pada waktu itu terlena dalam kehidupan duniawi, berpaling
dari Allah Swt dan menjauhi orang-orang yang mencintai Allah serta segala
sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada Allah Swt. Mengajarkan pada manusia
arti cinta ilahi dengan mendidik manusia dengan akhlaq yang mulia sehingga
mendapatkan kedudukan tinggi. Hidup Rabi'ah penuh untuk beribadah kepada Tuhan
hingga akhir hayatnya.
Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah)
dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah
dalam sebuah maqamat sufi tak ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau antara
mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa
dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan
ma’rifat itu timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi
dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa
pun.
Apa yang diajarkan Rabi’ah
melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan
al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika
Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka
dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia
mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan
surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada
dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai
berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena
mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi
Engkau,
janganlah Engkau enggan
memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku .
Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu
kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada
selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak
mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku
kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.” Rabi’ah juga
ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab,
“Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam
diriku untuk rasa membenci syetan.”
Allah adalah teman sekaligus
Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada
dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena
itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalam
salah satu sya’ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi’ah kepada Teman
dan Kekasihnya itu:
Kujadikan Engkau teman bercakap
dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan
yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan
Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau
sendiri.
Menurut kaum sufi, proses
perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah dan ma’rifat.
Namun begitu, sebelum sampai ke tahapan maqam tersebut, Rabi’ah terlebih dahulu
melampaui tahapan-tahapan lain, antara lain tobat, sabar dan syukur.
Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan.
Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum
terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah
tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus
mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya.
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah
tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu
ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya.
Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau
terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga
sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah
yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan
pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku
pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.
Cinta bagi Rabi’ah telah
mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi
bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah
jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang
mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan
ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari
Cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan
kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di
akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap Tuhan
memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah
mengatakan :
Aku mencintai-Mu dengan dua macam
Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau
layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan
mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak
dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
Namun, tak ada pujian dalam ini
atau itu,
segala pujian hanya untuk-Mu dalam
ini atau itu .
Abu Thalib al-Makki dalam mengomentari sya’ir di atas mengatakan, dalam Cinta
rindu itu, Rabi’ah telah melihat Allah dan mencintai-Nya dengan merenungi
esensi kepastian, dan tidak melalui cerita orang lain. Ia telah mendapat
kepastian (jaminan) berupa rahmat dan kebaikan Allah kepadanya. Cintanya telah
menyatu melalui hubungan pribadi, dan ia telah berada dekat sekali dengan-Nya
dan terbang meninggalkan dunia ini serta menyibukkan dirinya hanya dengan-Nya,
menanggalkan duniawi kecuali hanya kepada-Nya. Sebelumnya ia masih memiliki
nafsu keduniawian, tetapi setelah menatap Allah, ia tanggalkan nafsu-nafsu
tersebut dan Dia menjadi keseluruhan di dalam hatnya dan Dia satu-satunya yang
ia cintai. Allah telah memebaskan hatinya dari keinginan duniawi, kecuali hanya
diri-Nya, dan dengan ini meskipun ia masih belum pantas memiliki Cinta itu dan
masih belum sesuai untuk dianggap menatap Allah pada akhirnya, hijab tersingkap
sudah dan ia berada di tempat yang mulia. Cintanya kepada Allah tidak
memerlukan balasan dari-Nya, meskipun ia merasa harus mencintai-Nya. Al-Makki
melanjutkan, bagi Allah, sudah selayaknya Dia menampakkan rahmat-Nya di muka
bumi ini karena doa-doa Rabi’ah (yaitu pada saat ia melintasi Jalan itu) dan
rahmat Allah itu akan tampak juga di akhirat nanti (yaitu pada saat Tujuan
akhir itu telah dicapainya dan ia akan melihat wajah Allah tanpa ada hijab,
berhadap-hadapan). Tak ada lagi pujian yang layak bagi-Nya di sini atau di sana
nanti, sebab Allah sendiri yang telah membawanya di antara dua tingkatan itu
(dunia dan akhirat).
Dalam shahih Bukhari-Muslim, sebuah
hadis diriwayatkan oleh Anas bin Malik menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “
Kamu belum beriman sebelum Allah dan RasulNya lebih kamu cintai daripada selain
keduanya.” Tirmidzi pun meriwayatkan bahwa Rasullullah bersabda, “ Cintailah
Allah karena nikmat yang dianugerahkanNya kepadamu. Cintailah aku karena
kecintaanmu kepada Allah. Dan Cintailah keluargaku karena kecintaanmu kepadaku.”
B. Pengertian Ma’rifat dan Tanda
Ma'rifat
Dari segi
bahasa, Ma’rifah berasal dari kata ‘arafa, ya’rifu,
‘irfan dan ma’rifah yang artinya mengetahui atau
pengalaman. Dan apabila dihubungkan dengan pengalaman tasawwuf, maka
istilah ma’rifah di sini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam
dalam tasawuf.
Kemudian istilah ini dirumuskan
definisinya oleh beberapa Ulama Tasawwuf, antara lain:
1.
Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama’ Tasawuf
yang mengatakan:
اَلْمَعْرِفَةُ جَزْمُ قَلْبِ
بِوُجُوْدِالْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتّصِفاً بِساَئِرِالْكَلِماَتِ
Artinya: “Ma’rifah
adalah ketepatan hati (dalam memercayai hadirnya)wujud
yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaan.”
2.
Asy-Syekh Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth
Thayyib A-Samiriy yang mengatakan:
اَلْمَعْرِفَةُ طُلُوْعِ الْحَقِّ،
وَهُوَالْقَلْبُ بِمُوَاصَلَةِ الْاَنْوَارِ
Artinya: “Ma’rifah adalah hadirnya
kebenaran Allah (pada sufi).... dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi...”
3.
Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad
bin Abdillah yang mengatakan:
اْلْمَعْرِفَةُ يُوْجِبُ السّكِينَةَ
فيِ الْقَلْبِ كَماَ اَنَّ الْعِلْمَ يُوْجِبُ السّكُوْنَ، فَمَنِ ازْدَادَتْ
مَعْرِفَتُهُ اِزْدَادَتْ سَكِيْنَتُهُ
Artinya: “Ma’rifah membuat
ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barang siapa yang
meningkat ma’rifahnya, maka
meningkat pula ketenangan (hatinya).”
Tidak semua orang yang
menuntut ajaran tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma’rifah. Karena itu,
Sufi yang sudah mendapatkan ma’rifah, memiliki tanda-tanda tertentu,
sebagaimana keterangan Dzun Nun Al-Mishri yang mengatakan; ada beberapa tanda
yang dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifah, antara
lain:
a.
Selalu memancar cahaya ma’rifah padanya dalam segala sikap dan
prilakunya, karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
b.
Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta
yang bersifat nyata, kerena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum
tentu benar.
c.
Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena
hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat
bahwa seorang Sufi tidak membutuhkan kehiduoan yang mewah, kecuali tingkatan
kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah
SWT., sehingga Asy Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa Ma’rifah yang
dimiliki Sufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya, karena merasa
selalu bersama-sama dengan Tuhannya.
·
Imam Rawin mengatakan, Sufi yang sudah mencapai tingkatan
ma’rifah, bagaikan ia berada di muka cermin, bila ia memandanginya, pasti ia
melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhannya.
Maka tiada lain yang dilihatnya dalam Tuhannya. Maka tidak lain yang dilihatnya
dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT., saja.
·
Al-Junaid Al-Baghdadiy mengatakan, Sufi yang sudah mencapai
tingkatan ma’rifah, bagaikan sifat air gelas, yang selalu menyerupai warna
gelasnya. Maksudnya, Sufi yang sudah larut (hulul) dalam Tuhannya selalu
menyerupai sifat-sifat dan kehendaknya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang
Sufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya
kepada Allah terputus, meskipun hanya sekejap mata saja.
·
Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifah itu
adalah keadaan yang diliputi rasa kekaguman dan keheranan ketika Sufi
bertatapan dengan Tuhannya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan
dirinya.
Keempat tahapan yang harus dilalui
oleh Sufi ketika menekuni ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan;
mulai dari syariat, Tarikat, Hakikat, dan Ma’rifah. Tidak mungkin dapat
ditempuh secra terbalik dan tidak pula secara terputus-putus. Dengan cara
menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini, seorang hamba tidak akan mengalami
kegagalan dan tidak pula mengalami kesesatan.
Hakikat Ma’rifat
Ada segolongan orang Sufi mempunyai
ulasan bagaimana hakikat ma’rifah. Mereka mengemukakan paham-pahamnya antara
lain:
1.
Kalau mata yang ada di dalam hati sanubari manusia terbuka, maka
mata kepalanya tertutup, dan waktu inilah yang dilihat hanya Allah.
2.
Ma’rifah adalah cermin. Apabila seorang yang arif melihat ke arah
cermin maka apa yang dilihatnya hanya Allah.
3.
Orang arif baik di waktu tidur dan bangun yang dilihat hanyalah
Allah SWT.
4.
Seandainya ma’rifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan
mati karena tidak tahan melihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya
akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.
Menurut “Zunnun Al-Misrilah” (Bapak
paham Ma’rifah) bahwa pengetahuan tentang Tuhan ada tiga macam:
1. Pengetahuan
Awam
Memberi penjelasan bahwa Tuhan satu
dengan perantara ucapan syahadat.
2. Pengetahuan
Ulama
Memberi penjelasan bahwa Tuhan satu
menurut akal (logika).
3. Pengetahuan
Sufi
Memberi penjelasan bahwa Tuhan satu
dengan perantaraan hati sanubari.
Bahwa pengetahuan Awam dan Ulama di
atas belum dapat memberikan pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Sehinggga kedua
pengetahuan tersebut baru disebut “Ilmu” belum dapat dikatakan sebagai
“Ma’rifah”. Akan tetapi pengetahuan yang disebut ma’rifah adalh pengetahuan
Sufi. Ia dapat mengetahui hakikat Tuhan (ma’rifah). Sehingga ma’rifah hanya
dapat diperoleh pada kaum Sufi. Mereka sanggup melihat Tuhan dengan cara
melalui hati sanubarinya. Disamping itu juga mereka mereka didalam hatinya
penuh dengan cahaya.
Untuk memperoleh
“Ma’rifah” tentang Tuhan, Zunun Al-Misrilah mengatakan:
عَرَفْتُ رَبّى وَلَوْلاَرَبّى لَماَ
عَرَفْتُ رَبّىِ
Artinya: “Aku mengetahui Tuhan
dengan Tuhan dan sekitarnya tidak karena Tuhan aku tak akan tahu Tuhan.”
Dijelaskan pula, bahwa tanda orang
makrifat itu ada tiga:
1. Cahaya makrifatnya tidak memadamkan
cahaya wara’nya.
2. Tidak meyakini ilmu bathiniah yang
dapat merusak lahiriah hukum.
3. Banyaknya nikmat yang dianugerahkan
Allah kepadanya dan tidak membawanya pada kebinasaan sampai merusak tabir dan
hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
· Menurut Al-Qusyairi jalan untuk
mencapai Ma’rifat ada tiga yaitu:
1. Qalb ( اَلْقَلْبُ ) fungsinya
untuk dapat mengetahui sifat Tuhan
2. Ruh (اَلرُّحُ ) fungsinya
untuk dapat mencintai Tuhan.
3. Sir ( اَلسِّرُّ ) fungsinya
untuk melihat Tuhan.
Kedudukan Sir lebih halus dari Ruh dan Qalb. Dan ruh lebih halus qalb. Qalb di
samping sebagai alat untuk merasa juga sebagai alat untuk berpikir. Bedanya
qalb dengan aql ialah kalau ‘aql tidak dapat menerima pengetahuan tentang
hakikat Tuhan, tetapi Qalb dapat mengetahui Hakikat dari segala yang
ada dan manakala dilimpahi suatu cahaya dari Tuhan, bisa mengetahui
rahasia-rahasia Tuhan.
Posisi Sir ( اَلسِّرُّ )bertempat di dalam Ruh. Dan ruh ( اَلرُّوْحُ )sendiri
berada di dalam qalb. Sir akan dapat menerima pantulan cahaya dari Allah
apabila qalb dan ruh benar-benar suci, kosong dan tidak berisi suatu apapun.
Pada suasana yang demikian, Tuhan akan menurunkan cahaya-Nya kepada mereka
(Sufi). Dan sebaliknya mereka yang melakukannya ( orang Sufi ) yang dilihat
hanyalah Allah SWT.
Pada kedudukan diatas ia (orang Sufi) telah berada pada tingkat “Ma’rifah”.
Sifat dari Ma’rifah Tuhan bagi seorang Sufi adalah kontinyu (terus menerus).
Semakin banyak mendapat ma’rifah Tuhan, semakin banyak yang diketahui tentang
rahasia-rahasia Tuhan. Sehingga orang Sufi semakin dengan Tuhan. Namun untuk
memperoleh ma’rifah yang penuh tentang Tuhan mustahil, sebab manusia bersifat
terbatas sedangkan Tuhan bersifat tidak terbatas.
Disamping itu, proses sampainya qalb pada cahaya tuhan ini erat kaitannya
dengan konsep takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli
yaitu mengosongkan diri sari akhlak tercela dan perbuatan maksiat melalui
taubat. Hal ini dilanjutkan dengan Tahalli, yaitu menghiasi diri dengan akhlak
yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan Tajalli adalah tersingkapnya hijab
(penutup) sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.
Secara garis besar dapat diambil
sebuah kejelasannya, bahwa Ma’rifat dapat dibagi kedalam dua kategori:
1. Ma’rifat
Ta’limiyat
Ma’rifat Ya’limiyat merupakan istilah lain Ma’rifat yang di lontarkan
oleh al-Ghazali25, dapat di depinisikan sebagai Ma’rifat yang dihasilkan dalam
usaha memperoleh Ilmu. ta’limiyat berasal dari kata ta’lama, yuta’limu,
ta’liman-ta’limiyatan yang berarti mencari pengetahuan atau dalam arti lain
memperoleh ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yang yang sedang mencari ilmu
disebut muta’alim. Oleh karena itu Ma’rifat ta’limiyat yaitu berjalan untuk
mengenal Allah dari jalan yang biasa, “mulai dari bawah hingga keatas”.
Di sisi teori yang lain Ma’rifat ta’limiyat dapat disebut juga dengan Ma’rifat orang salik Pada mulanya salik mengenal alam sebagai ciptaan Tuhan, kemudian mengenal nama-nama-Nya, kemudian mengenal sifat-sifat-Nya dan pada akhirnya mengenal Dzat Pencipta alam -Allah Azza wa jalla-.Adapun penjelasan mengenai Ma’rifat terhadap Asma, Sifat, dan Dzat Tuhan, diuraikan dalam 99 Nama-nama Tuhan, dalam istilah lain disebut asamul al-husna, sebagaimana yang dilontarkan oleh M. Ali Chasan Umar bahwa asma al-husna adalah Nama-nama Allah yang terbaik dan yang Agung, yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, yang jumlahnya ada 99 (sembilan puluh sembilan) Nama. Karena itu, adannya alam semesta menujukan adanya nama-nama Tuhan, nama-nama Tuhan itu menujukan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Tuhan itu ada hubungannya dengan Dzat-Nya, Ilmu-Nya, kekerasan. Keagungan-Nya dan tiada batasnya. Sifat-sifat tersebut itu selalu berdiri sendiri dan bergantung pada Dzat-Nya sebab tidak mungkin kalau ada sifat tetapi tidak ada yang disifati. Adapun yang disifati dengan sifat-sifat yang sempurna adalah Allah Azza wa Jalla. Nama-nama itu disebutkan dalam Firman-Nya :
Di sisi teori yang lain Ma’rifat ta’limiyat dapat disebut juga dengan Ma’rifat orang salik Pada mulanya salik mengenal alam sebagai ciptaan Tuhan, kemudian mengenal nama-nama-Nya, kemudian mengenal sifat-sifat-Nya dan pada akhirnya mengenal Dzat Pencipta alam -Allah Azza wa jalla-.Adapun penjelasan mengenai Ma’rifat terhadap Asma, Sifat, dan Dzat Tuhan, diuraikan dalam 99 Nama-nama Tuhan, dalam istilah lain disebut asamul al-husna, sebagaimana yang dilontarkan oleh M. Ali Chasan Umar bahwa asma al-husna adalah Nama-nama Allah yang terbaik dan yang Agung, yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, yang jumlahnya ada 99 (sembilan puluh sembilan) Nama. Karena itu, adannya alam semesta menujukan adanya nama-nama Tuhan, nama-nama Tuhan itu menujukan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Tuhan itu ada hubungannya dengan Dzat-Nya, Ilmu-Nya, kekerasan. Keagungan-Nya dan tiada batasnya. Sifat-sifat tersebut itu selalu berdiri sendiri dan bergantung pada Dzat-Nya sebab tidak mungkin kalau ada sifat tetapi tidak ada yang disifati. Adapun yang disifati dengan sifat-sifat yang sempurna adalah Allah Azza wa Jalla. Nama-nama itu disebutkan dalam Firman-Nya :
Artinya : “Serulah
Allah atau Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu seru, Dia adalah adalah
mempunyai nama-nama yang baik”. (Q.S. Al-Isra’: 110)
Ma’rifat
ta’limiyat secara lebih luas dapat didefinisikan sebagai proses bagaimana cara
mengenali Tuhan (Ma’rifat). artinya salik (muta’alim) memerlukan metode
untuk meraih Ma’rifat baik metode yang dilakukan secara khusus misalnya menjadi
murid untuk melakukan proses perjalanan ruhani (suluk) dalam tarekat sufi
secara metodik, maupun metode yang dilakukan secara umum atau tarekat yang
secara langsung mengkaji dari sumber-sumber Tasawuf atau mengikuti jejak
langkah yang dilakukan oleh Rasulullah, Para sahabat, Tab’iin, Atba At-Tabi’in
sampai ulama sekarang yang sejalan dengan al-Quran dan Hadits.
Adapun
Arifubillah Muhammad bin Ibrahiim mendefinisikan bahwa hakikat cara (suluk),
ialah mengosongkan diri Dari sifat-sifat mazmumah/buruk (dari maksiat lahir dan
dari maksiat batin) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji/mahmudah (dengan
taat lahir dan batin). Tujuan dari pada suluk, bukan sekedar untuk maksud
mendapat ni’mat dunia dan akhirat atau untuk memperoleh limpahan-limpahan
karunia Allah, arau mendapatkan sorotan cahaya (nur), dan lain-lain,
sehingga salik (muta’alim) dapat mengetahui suratan nasib. Tetapi suluk
bertujuan untuk Allah semata. Dengan jalan suluk, maka semua pelajaran-pelajaran
yang dipelajari dalam Tasawuf/ Tarekat, dengan karunia-Nya salik sendiri akan
mengalami keyakian dekat dengan Tuhan. Firman Allah :
فَاْسلُكِى سُبُلَ َرّبِكَ ذُللاًّ
Artinya : “Maka tempuhlah jalan
Tuhan-Mu yang telah dimudahkan bagimu. Dalam menempuh jalan Tuhan (suluk) maka
ahli-ahli Tasawuf/Tarekat merasa yakin akan sapai kepada Tuhan”.
Kearah menempuh tujuan itu, salik
(muta’alim) menempuh bermacam-macam cara yang dapat membawa meraka yang pada
akhirnya sampai pada hadirat Allah :al-Ghazali menyebutkan cara tersebut berupa
Penycian jiwa (tazkiyat an-nafs) artinya sesorang harus melakukan penyucian
jiwa terlebih dahulu. Perolehan Ma’rifat yang merupakan hasil dari
kegiatan penyucian jiwa, harus terlebih dahulu dengan metode mujahadah dan
riyadhah. Setelah mendaki stasiun demi stasiun menuju Tuhan, salik (pelaku
tazkiyat an-nafs) hampir dapat dipastikan bahwa telah memperoleh jiwa yang
bersih dari segala kejahatan dan dosa, yang diakibatkan dari akhlak-akhlak
tercela. Jiwa seperti ini akan bercahaya dengan segala sifat yang terpuji
sehingga dapat menangkap gambar suatu informasi atau pengetahuan yang tertera
di lauh al-Mahfudh, yang langsung diberikan oleh Allah kepadanya dalam kondisi
Ma’rifat
Adapun fase-fase yang harus
ditempuh kerah mencapai hakikat, salik (muta’alim) dapat melakukan amal
ibadat cara menuju kepada Tuhan dengan menempuh empat fase :
Fase 1. Disebut dengan murhalah amal lahir. Artinya : berkenalan melakukan
amal ibadat yang dipardukan dan sunnat, sebagai mana yang dilakukan Rosulullah
Saw.
Fase 2. disebut amal batin atau
moraqabah (mendekatkan diri pada Allah) dengan jalan menyucikan diri dari
maksiat lahir dan batin (takhalli), memerangi hawa nafsu, dibarengi dengan amal
yang terpuji (mahmudah) dari taat lahir dan batin (tahalli) yang semuanya itu
merupakan amal qalb (hati). Setelah hati dan ruhani telah bersir dan diisi
dengan amalan batin (dzikir), maka pada fase ini salik didatangkan nur dari
Tuhan yang dinamakan nur kesadaran.
Fase 3. disebut murhalah riadhah/
melatih diri dan mujahadah/ mendorong diri. Maksud dari dari pada mujahadah
yakni melakukan jihad lahir dan batin untuk menambah kuatnya kekuasaan
ruhani atas jasmani, guna membebaskan jiwa kita dari belenggu nafsu duniawi,
supaya jiwa itu menjadi suci, Imam ghazali mengumpamakan seperti kaca cermin
yang dapat menangkap sesuatu apapun yang bersifat suci, sehgingga salih dapat
menerima informasi hakiki tentang Allah.
Fase 4. disebut murhalah “fana
kamil” yaitu jiwa salik telah mencapai pada martabat menyaksikan langsung
yang haq dengan al-haqq (syuhudul haqqi bil haqqi). Pada fase keempat ini,
sebagai puncak segala perjalanan, maka didatangkan nur yang dinamakan “nur
kehadiran”
2. Ma’rifat
Laduniyah
Ma’rifat
laduniyah yaitu Ma’rifat yang langsung dibukakan oleh Tuhan dengan keadaan
kasf, mengenal kepada-Nya. Jalannya langsung dari atas dengan menyaksikan Dzat
yang Suci, kemudian turun dengan melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kemudian
kembali bergantung kepada nama-nama-Nya. Ibnu ‘Atha’illah memberi istilah lain
terhadap Ma’rifat laduniyah dengan sebutan Ma’rifat orang mahjdub. Ma’rifat
orang mahjdub yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Atha’illah merupakan sebuah Ilmu yang
diberikan secara langsung oleh Tuhan kepada manusia yang ada sisi kesamaannya
dengan Ma’rifat Laduniyah.
Lebih jauh, kalangan sufi tersebut menyatakan bahwa orang yang telah mengenal Allah, juga akan dianugrahi Ilmu laduni. Ilmu laduni merupakan ilmu yang di ilhamkan oleh Allah Swt. Kepada hati hamba-Nya tanpa melalui suatu perantara (wasitaha), sebagaimana perantara yang pada umumnya dibuat untuk memeperoleh ilmu pengetahuan –seperti talqin dari - sufi.
Tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara biasa (Ma’rifat talimiyat), ilmu laduni bersifat tetap dan tidak dapat hilang atau terlupakan. Seseorang yang telah dianugrahi ilmu laduni disebut dengan ‘alim sejati’ (alim yang sebenarnya). Sebaliknya, seseorang yang tidak memperoleh dari ilmu laduni, belum bisa disebut sebagai alim sejati. Hal ini dinyatakan oleh Abu Yazid al Bistami bahwa “Tidaklah disebut sebagai alim (ma’rifat al-mahdjub) jika seseorang masih memeproleh ilmunya dari hapalan-hapalan kitab, karena seseorang yang memperoleh ilmunya dari hapalan, pasti akan mudah melupakan ilmunya. Dan apabila ia lupa, maka bodohlah ia ”Seorang yang ‘alim (ma’rifat laduniyah) adalah orang yang memeproleh ilmunya langsung dari Allah menurut waktu yang dikehendaki-Nya, dengan tidak melalui hapalan dan pelajaran. Orang seperti ini pula menurut Muhammad Nafis disebut sebagai ‘alim ar-Rabani -orang yang berpengetahuan ketuhanan-. Dengan demikian Ma’rifat laduniyah juga dapat disebut Ma’rifat orang Mahjdzub juga dapat disebut ‘alim ar-Rabani yaitu orang yang langsung dibukakan oleh Tuhan untuk mengenal kepada-Nya. Jalannya langsung dari atas dengan menyaksikan Dzat yang Suci, kemudian turun dengan melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kemudian kembali bergantung kepada nama-nama-Nya.
Firman Allah dalam al-Qur’an :
Lebih jauh, kalangan sufi tersebut menyatakan bahwa orang yang telah mengenal Allah, juga akan dianugrahi Ilmu laduni. Ilmu laduni merupakan ilmu yang di ilhamkan oleh Allah Swt. Kepada hati hamba-Nya tanpa melalui suatu perantara (wasitaha), sebagaimana perantara yang pada umumnya dibuat untuk memeperoleh ilmu pengetahuan –seperti talqin dari - sufi.
Tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara biasa (Ma’rifat talimiyat), ilmu laduni bersifat tetap dan tidak dapat hilang atau terlupakan. Seseorang yang telah dianugrahi ilmu laduni disebut dengan ‘alim sejati’ (alim yang sebenarnya). Sebaliknya, seseorang yang tidak memperoleh dari ilmu laduni, belum bisa disebut sebagai alim sejati. Hal ini dinyatakan oleh Abu Yazid al Bistami bahwa “Tidaklah disebut sebagai alim (ma’rifat al-mahdjub) jika seseorang masih memeproleh ilmunya dari hapalan-hapalan kitab, karena seseorang yang memperoleh ilmunya dari hapalan, pasti akan mudah melupakan ilmunya. Dan apabila ia lupa, maka bodohlah ia ”Seorang yang ‘alim (ma’rifat laduniyah) adalah orang yang memeproleh ilmunya langsung dari Allah menurut waktu yang dikehendaki-Nya, dengan tidak melalui hapalan dan pelajaran. Orang seperti ini pula menurut Muhammad Nafis disebut sebagai ‘alim ar-Rabani -orang yang berpengetahuan ketuhanan-. Dengan demikian Ma’rifat laduniyah juga dapat disebut Ma’rifat orang Mahjdzub juga dapat disebut ‘alim ar-Rabani yaitu orang yang langsung dibukakan oleh Tuhan untuk mengenal kepada-Nya. Jalannya langsung dari atas dengan menyaksikan Dzat yang Suci, kemudian turun dengan melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kemudian kembali bergantung kepada nama-nama-Nya.
Firman Allah dalam al-Qur’an :
اتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ
عِنْدِنَاوَعَلَمْنَاهُ مِنْ لَدُنّاَعِلْمًا الكهف : 65
Artinya : “…yang telah berikan
padanya rakmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari
sisi kami” (al-Kahfi : 65)
Ma’rifat laduniyah tidak jauh bedanya
dengan ‘alim Rabbani yang berbeda dengan Ilmu yang dipelajari para Ilmuwan,
dalam istilah al-Ghazali disebut dengan Ilmu ta’limiyat. Namun, keduanya tetap
berhubungan. Hubungan antara keduanya, menurut al-Ghazali laksana naskah asli
dengan duplikatnya. Hal ini mirip dengan teori plato bahwa Ilmu yang ada di
alam ide itu lebih murni dari pada ilmu yang telah digelar di alam raya, namun
kedunya persis sama, seperti halnya naskah asli dengan duplikatnya atau
fotokopinya. Ilmu laduniyah, ‘alim Ar-Rabani, ‘alim sejati, dan Ma’rifat orang
mahjdub dapat dicapai oleh para sufi dalam keadaan penghayatan Kasyf, sedang
ilmu ta’limyah hanya dapat dipelajari oleh para ilmuwan setapak demi setapak
dengan susah payah. Oleh karena itu, para sufi tidak tertelan belajar melalui
pengkajian buku-buku atau penelitian secara radikal terhadap kenyataan alamiyah
seperti halnya ilmuwan. Para sufi menginginkan jalan pintas untuk memperoleh
sumber asli dari segala ilmu yang tersurat di lauh mahfudz. Penghayatan
Kasf dan Zauq itu berada dalam kondisi Ma’rifat, karena Ma’rifat memiliki
hubungan yang erat dengan musyahadah dan mukasyafah. Ma’rifat itu sendiri
merupakan ajaran Tasawuf, yang pada garis besarnya merupakan ajaran kesucian
jiwa, yaitu semata-mata untuk memasuki hadharah al-qudsiyah (hadirat kesucian)
atau hadharah Rububiyah (hadirat ketuhanan), akan tetapi dalam hal ini,
Ma’rifat lebih signifikan karena keberadaan musyahadah dan mukasyafah
bergantung pada Ma’rifat dan dengan Ma’rifat pula, ilmu laduni ikut
menyertainya.
Dalam hal ini Ibnu ‘Atha’illah
mengemukakan hikmahnya sebagai berikut :
اَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ
يَسْتَشْهَدَكَ فَنَطَقَتْ بِإِلَهِيَّتِهِ الّظَوَهِرُوَتَحَقَّقَتْ
بِأَحَدِيـــَّــتِهِ الْقُلُوْبُ وَالسَّرَاِئرِ
Artinya : “Allah memperlihatkan Dzat-Nya kepadamu sebelum Dia menuntut kepadamu harus mengeakui keberasan-Nya. Maka anggota lahir mengucapkan (mengakui) sifat ke-Tuhanan-Nya dan hati menyatakan dengan sifat-sifat ke Easaan-Nya.
Maksud perkataan hikmah tersebut adalah “Tuhan menampakan keluhuran dan
keagungan Dzat-Nya didalam hati seseorang, setelah itu Allah menunutut
persaksian kepadamu mengenai kebesaran dan keluhuran-Nya dengan melakukan
dzikir dan Ibadah. Ibadah yang dilakukan dengan anggota lahir sebagai
persaksian mengenai keagungan dan keluhuran-Nya, dan dzikir yang
dilakukan dalam hati sebagai pengakuan dari sifat-sifat ke-Esaan-Nya”.
Semua yang ada di alam
ini mutlak ada dalam kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya
kita bisa ingat kepada Allah. Puncak ilmu adalah mengenal Allah (ma'rifatullah).
Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin
mengenal Allah. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar
prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allah.
Mengenal
Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak
mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap,
didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila
demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat
kita tidak mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat,
tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.
Ciri
orang yang ma'rifat adalah laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun. Ia tidak
takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma'rifat kita dapat
diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita
belum ma'rifat. Sebab, orang yang ma'rifat itu susah senangnya tidak diukur
dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia
dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas
bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.
Salah satu ciri orang ma'rifat
adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan
tujuh keuntungan hidup.
Pertama, Hidup selalu berada di jalan
yang benar (on the right track).
Kedua, memiliki kekuatan menghadapi
cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan.
Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan
dalam hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan
ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak akan pernah
ternikmati bila kita selalu resah gelisah.
Keempat, seorang ahli ibadah akan
selalu optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan
kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat.
Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar
atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan.
Kelima, seorang ahli ibadah memiliki
kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan. Setiap kali akan
melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus.
Seorang ahli ibadah akan memiliki kemampuan untuk bertobat.
Keenam, selalu ada dalam bimbingan
dan pertolongan Allah. Bila pada poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan
yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut.
Ketujuh, seorang ahli ibadah akan
memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah,
berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.
Kemampuan Manusia untuk melakukan Ma’rifat Allah menciptakan manusia dengan
sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian
manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian
Allah dengan baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai power untuk menghidupkan
seluruh anggota badan, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau
untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal
yang irasional, anggota tubuh seperti panca indra yang hanya dapat
merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan pernghalangnya. Dari semua
anggota tubuh manusia hanya Hati yang dapat menerima sesuatu yang mutlak dari
Allah yang maha kuasa karena hati adalah sebagai tuan dari anggota tubuh, semua
aktivitas anggota tubuh digerakkan oleh hati dan hati adalah Allah yang
menggerakkan.
Tokoh Ma’rifat
Dalam litelatur tasawuf, dijumpai
dua orang tokoh yang mengenalkan paham ma’rifat, yaitu al-Ghazali dan Dzannun
al-Misri.
Al-Gazali mengakhiri masa
pertualangannya, karena telah mendapat “pegangan” yang sekuat-kuatnya untuk
kembali berjuang dan bekerja di tengah masyarakat. Pegangan itu ialah “Paham
Sufi” yang diperolehnya berkat ilham Tuhan di tanah suci Mekkah dan Madinah.
Mengakhiri hidup menyendiri
dan masuk kembali ke tengah masyarakat, sesudah bertahun-tahun lamanya
menggali-gali kebenaran untuk dirinya sendiri, karena dia tetap beribadat dan
tetap berbuat amal di mana saja dia berada, tetapi persoalannya ialah jalan
mana yang benar ditempuh untuk meyakinkan kebenaran itu kepada khayalak ramai.
Sesudah mendapat ilham yang benar
di bawah lindungan Ka’bah maka terbukalah pikirannya untuk berkumpul dengan
segenap keluarganya. Hidup pertualangan yang berjalan 10 tahun lamanya, sudah
cukup membosankannya, dan timbullah pikiran yang normal untuk kembali hidup di
tengah masyarakat.
Terhadap hal ini, Al-Ghazali
mengatakan: “kemudian panggilan anak-anak dan cinta keluarga menarik sebagai
besi berani supaya aku pulang ke tanah air. Aku bersiap-siap akan pulang
sesudah bertahun-tahun aku menjauhinya karena mengutamakan hidup berkhalwat dan
menyendiri untuk membersihkan jiwa mengingat Tuhan. Peristiwa-peristiwa hidup,
kepentingan hidup berkeluarga dan desakan-desakan hidup telah mengubah tujuan
hidupku, mengacukan pikiran berkhalwat, sehingga timbullah kegelisahan batin
yang tidak membersihkan suasana hidupku lagi. Sungguhpun begitu, tidaklah putus
harapanku dan segala arah yang melintang aku singkirkan ke pinggir, supaya
dapat aku pulang kembali”.
Hatinya sudah
bulat untuk pulang. Tetapi sebagai orang besar, tidaklah mungkin dia pulang
dengan tidak ada panggilan resmi dari pihak pemerintah. Kebetulan datanglah
panggilan yang ditunggu-tunggunya itu. Perdana Mentri Fakhrul Mulk, putera dari
Nizamul Mulk almarhum, telah memintanya supaya segara pulang ke Niesabur untuk
memimpin Universitas Nizamiyah yang di tanggalkannya.
Adapun Dzannun
al-Misri berasal dari Naubah, suatu Negeri yang terletak diantara Sudan dan
Mesir. Lahir pada tahun 180H/799M dan wafat pada tahun 246H/865M. Menurut
Hamka, beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan menuju Tuhan, yaitu
mencintai Tuhan, menuruti garis perintah yang diturunkan dan takut terpalingkan
dari jalan yang benar. Dalam sebuah hikayat, Dzunnun terkenal sebagai orang
yang tinggi ilmu agamanya serta mustajab do’anya. Dalam sebuah cerita
disebutkan bahwa nama Dzunnun muncul ketika terjadi sebuah peristiwa yang
menunjukkan karomah yang dimilikinya. Pada saat mengadakan perjalanan, Dzunnun
dituduh mencuri batu berharga yang mengakibatkan dirinya disiksa. Namun merasa
tidak melakukan, Dzunnun berdoa dan memohon kepada Allah tentang kebenaran.
Akhirnya do’anya dikabulkan melalui ribuan ikan yang membawa batu berharga di
mulutnya dan mendekati kapal kemudian menyerahkan kepada saudagar yang
menuduhnya mencuri.
Dalam sejumlah kitab, Dzunnun
dikabarkan sebagai orang zuhud dan berilmu tinggi. Kema’rifatannya tentang
Tuhan mampu menembus batas-batas kosmik manusia biasa. Dalam sufi terdapat
beberapa tingkatan ma’rifat. Yang pertama adalah tingkatan yang paling rendah
yang berada pada orang awam. Tingkatan ini mengakui adanya Tuhan serta
membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya. Kedua tingkatan Teolog atau
Filosof. Tingkatan ini mengetahui Tuhan berdasarkan pertimbangan empiris dan
penciptaan, dan belum menyaksikan langsung dalam penyingkapan bathin. Tingkatan
yang ketiga adalah tingkatan yang paling tinggi didalam kema’rifatan, yaitu
mengetahui keberadaan, sifat dan perilaku Tuhan melalui sanubarinya. Menurut
Dzunnun, kema’rifatan dapat dilihat dengan mengetahui cirri-cirinya yaitu
selalu bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa bersyukur.
Dalam tingkatan
ketaqwaan, Dzunnun juga menyinggung masalah khauf atau rasa takut kepada Allah
serta mahabbah kepada Allah. Tuhan harus dicinyai dari segalanya. Seseorang
yang mencintai khaliq akan berbuat apa saja untuk dicintainya bahkan masuk
neraka sekalipun adalah lebih baik dimata Dzunnun dari pada berpisah dari sang
khaliq. Dalam berbagai pandang yang disampaikan, Dzunnun ternyata banyak
membawa dampak dan inspirasi bagi ulama’ sesudahnya.
KESIMPULAN
Mahabbah adalah perasaan kedekatan
kepada Allah melalui cinta (roh), seluruh jiwanya terisi oleh rasa kasih dan
cinta kepada Allah, sedangkan Ma’rifat merupakan tingkatan pengetahuan kepada
Allah melalui mata hati (al-qalb).
Konsep mahabbah atau al-hubb pertama
kali di cetuskan oleh seorang sufi wanita bernama Rabi’ah Al Adawiyah,
Corak Tasawuf Rabi’ah begitu menonjolkan cinta kepada Allah bukan karena rasa
takut akan siksa neraka ataupun mengharap surga karena cinta yang suci murni
tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya, .
Mahabbah senantiasa di damping oleh
ma’rifat, keduanya merupakan hubungan rapat antara sufi dengan Tuhan. Tujuan Mahabbah adalah untuk
memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan oleh kata-kata, tetapi
hanya dirasakan oleh jiwa. Cara untuk menuju Mahabbah dan Ma’rifat adalah:
Tobat, Zuhud, Wara’ (sufi), Faqir, Sabar, Tawakkal dan Ridha.
Sufi pertama yang menonjolkan
konsep ma’rifatnya adalah Dzun Nun Al-Mishry. Ketika Dzun Nun ditanya bagaimana
ia memperoleh Ma’rifat tentang Tuhan ia menjawab: “Aku mengenal Tuhan dengan
pertolongan Tuhanku dan sekiranya tidak karena Tuhanku aku tak akan kenal
Tuhan”.
Pengetahuan tentang Ma’rifat
menurut Dzun Nun Al-Mishry dibagi menjadi 3 tingkatan: Pengetahuan awam,
Pengetahuan ulama’ dan Pengetahuan Sufi. Tanda yang dimiliki oleh Sufi bila
sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat adalah selalu memancar cahaya ma’rifat
dalam segala sikap dan perilakunya, tidak memutuskan berdasarkan fakta yang
bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu
benar, tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak bagi dirinya karena hal itu
bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.