BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses
pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan
peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan
oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik,
sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat
yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik,
kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh
peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin.
Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan.
Al-Qur'an
sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal
harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan
manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang
terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan,
kewajiban belajar, tujuan pendidikan dan subjek pendidikan.
Keluasan
Al-Quran dalam konsep pendidikan tersebut telah mendorong penulis untuk
menggali salah satu dari konsep tersebut, untuk itu dalam makalah ini penulis
akan mencoba memaparkan sedikit tentang salah satu konsep tersebut, yaitu yang
berhubungan dengan subjek pendidikan dengan harapan dapat lebih memahami
bagaimana subjek pendidikan menurut Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka
rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Apakah pengertian dari pendidik ?
2. Bagaimana hakikat pendidikan
islam?
3. Meliputi apa sajakah tugas seorang
pendidik ?
4. Bagaimana cara meningkatkan mutu
pendidikan?
5. Bagaimana karakteristik pendidik
islam?
Dari
latar belakang diatas maka tujuan dari pembahasan dalam makalah ini sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui pengertian dari
pendidik .
2. Dapat mengetahui hakikat
pendidikan islam .
3. Dapat mengetahui tugas seorang
pendidik .
4. Dapat mengeetahui cara
meningkatkan pendidikan .
5. Dapat mengetahui karakteristik
pendidik islam .
D. Metode Penulisan Makalah
Sesuai dengan tujuan penulisan yaitu mendiskripsikan masalah, maka
dalam makalah ini penulis menggunakan
metode study teks (studi keperpustakaan) yang merupakan kegiatan
penelusuran dan menela’ah literature, yang melacak informasi dari buku, majalah,
koran, intenet yang sangat diperlukan sebagai survei terhadap data yang sudah
ada.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian pendidik
Secara
etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Pengertian ini
memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang
pendidikan. Kata tersebut seperti “teacher” artinya guru yang mengajar dirumah.
Istilah
pendidikan bisa kita temukan dalam Al-qur’an dengan istilah At-tarbiyah,
At-ta’lim dan At-ta’dib, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata
robb. Kata tarbiyah sendiri merupakan masdar dari fi’il robba-yurobbi, yang
artinya, memimpin, memiliki mengumpulkan, memperbaiki, menambah, memelihara,
mengasuh dan mendidik. Dapat kita ambil pemahaman, pengertian pendidik dalam
islam adalah Murabbi, Mu’allim dan Mu’addib.
Pengertian
Mu’allim mengandung arti konsekuensi bahwa pendidik harus mu’allimun
yakni menguasai ilmu, memiliki kreatifitas dan komitmen yang tinggi dalam
mengembangkan ilmu.Sedangkan konsep ta’dib mencakup pengertian
integrasi antara ilmu dengan amal sekaligus, karena apabila dimensi amal hilang
dalam kehidupan seorang pendidik, maka citra dan esensi pendidikan Islam itu
akan hilang.
Selanjutnya
dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, Mudarris, Mu’allim dan mu’addib.
Secara keseluruhan kata-kata tersebut terhimpun dalam satu kata pendidik karena
semua kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman kepada orang lain.
Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:
Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:
1. Ahmad D. Marimba mengartikan
pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.
2. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa
pendidik dalam Islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
3. Muri Yusuf, mengemukakan bahwa
pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam
situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Orang yang bertanggung jawab
terhadap pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua:
a. Orang tua
b. Orang tua disebut pendidik
kodrati, karena mereka mempunyai hubungan darah dengan anak. Disebut juga orang
yang menjadi pendidik pertama. Sebab secarea alami anak padan masa awal
kehidupannya berada ditengah-tengah orang tuanya. Kalau orang tua sudah
meninggal maka tugas ini digantikan oleh orang yang bertanggung jawab mendidik
anak dalam keluarga, dikenal juga dengan istilah wali.
c. Orang lain seperti Guru, Dosen,
Pelatih, Pembimbing, juga masyarakat.
Dalam al-Qur’an Allah mencontohkan
bagaimana nabi Isa belajar kepada khidhir Sebagimana
terdapat dalam surat al-Kahfi(18) ayat 66 .
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ
تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
Artinya: Musa berkata kepada
Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu
yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Dalam ayat ini Allah menyatakan maksud Nabi Musa as datang kepada Al Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Al Khidir dan berkata kepadanya: "Saya adalah Musa". Al Khidir bertanya: "Musa dari Bani Israel?" Musa menjawab: "Ya, benar! Maka Al Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata: "Apa keperluanmu datang kemari?" Nabi Musa menjawab, bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud supaya Al Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Al Khidir itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh.
Dalam
ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid
kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan itu
berarti Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan mohon diperkenankan
mengikutinya, supaya Al Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah Allah
berikan kepadanya. Sikap yang demikian menurut Al Qadi, memang seharusnya
dimiliki oleh setiap pelajar dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.
Sejalan
dengan tuntunan perkembangan manusia, orang tua dalam situasi tertentu atau
sehubungan dengan bidang kajian tertentu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan
pendidikan anaknya. Untuk itu mereka melimpahkan tanggung jawab mereka kepada
orang lain yang mereka anggap pantas dan professional. Pelimpahan itu bukan
berarti tanggung jawab orang tua dalam pendidikan tidak ada lagi, justru disini
orang tua benar-benar harus punya kemampuan dalam menyikapi perkembangan si anak.
Dikarenakan banyaknya masalah yang mereka temui yang akan mempengaruhi
perkembangan moral, emosional, dan kematangan berfikir anak.
B. Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan yang
dimaksud di sini merupakan upaya sadar yang bertujuan untuk memanusiakan
manusia. Sehingga pendidikan merupakan media yang dapat membantu manusia untuk
mencapai tujuannya. Dengan pendidikan manusia akan mengetahui hakikat dirinya.
Karena dalam pendidikan terdapat nilai-nilai dan konsep-konsep kebenaran dan
keberadaan seorang itu sendiri.
Allah
telah mendidik dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam, tersirat
pengertian yang menyatakan bahwa manusia agar tetap memelihara kesucian asma`
(pelajaran yang di ajarkan) Tuhan pendidik yang maha tinggi. Tuhan telah
menciptakan (alam dan manusia), kemudian menyempurnakan proses penciptaanya.
Tuhan telah memberikan batasan (menetapkan aturan-aturan, takaran, ukuran dan
sebagainya di alam) dan kemudian memberi pertunjuk terhadap proses
penyempurnaan ciptaan tersebut.
Jadi
pendidikan berarti mengembangkan potensi manusiawi di bawah pengaruh
hukum-hukum Allah, baik al-Quran maupun Sunnah Allah, dan hal ini akan
menghasilkan kebudayaan, yang terus menerus berkembang. Setiap generasi tua
mewariskan kebudayaan pada generasi mudanya dan mengarahkannya agar kebudayaan
tersebut berkembang.
Dalam
tujuan secara umum pendidikan Islam membentuk pribadi bahagia di dunia dan
akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal
yang mampu mengerakan perkembangan manusia.
Adapun
istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu
pada al-Tarbiyah, al-Ta'dib, al-Ta'lim. Dari ketiga istilah tersebut
yang populer di gunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah al-Tarbiyah,
sedangkan al-Ta'dib dan al-Ta'lim jarang sekali digunakan.
Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan
pendidikan Islam. Istilah al-Tarbiyah berasal dari
kata Rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian
dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur
dan menjaga kelestarian atau ekstiensinnya.
Proses
pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang di berikan Allah sebagai
"pendidik" seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Pengertian
pendidikan Islam yang dikandungkan dalam al-Tarbiyah, terdiri dari empat
unsur pendekatan, yaitu:
1. Memelihara
dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh)
2. Mengembangkan
seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3. Mengarahkan
seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4. Melaksanakan
pendidikan secara bertahap.
Istilah al-Ta'lim adalah
telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para
ahli, kata ini lebih bersifat universal di
banding al-Tarbiyah mupun al-Ta'dib. Misalnya mengartikan al-Ta'lim sebagai
proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya
batasan dan ketentuan tertentu. melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai
pendidikan tazkiyah an-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran,
sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala
yang bermanfaat untuk diketahui.
Sedangkan istilah al-Ta'dib adalah
pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan pada diri
manusia . Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing
ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud
dan kepribadiannya.
Dalam
kata at-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuh, pemeliharaan, dan kasih
sayang tidak hanya digunakan untuk manusia, akan tetapi juga digunakan untuk
melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Di antara batasan
yang sangat variatif tersebut adalah:
a. Mengemukakan bahwa pendidikan
Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan
pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya.
b. Mendefinisikan pendidikan Islam
sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih
dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.
c. Mengemukakan bahwa pendidikan
Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya
kepribadiannya yang utama (insan kamil).
d. Mendefinisikan pendidikan Islam
sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara
maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam al-Qur`an ditegaskan bahwa Allah adalah Rabb al-'alamin, artinya adalah pendidik semesta alam dan juga pendidikan bagi manusia. Pengertian tersebut diambil karena kata Rabb dalam arti Tuhan dan Rabb dalam arti pendidik berasal dari asal kata yang sama.
Dengan
demikian menurut al-Qur’an alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan
berkembang dan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tersebut tidak lain
kecuali Allah juga. Jadi mendidik dan
pendidik pada hakikatmya adalah fungsi Tuhan dan mendidik adalah mengatur
serta, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam dan manusia sekaligus.
Kenapa kenyataan bahwa pendidik dan mendidik itu menjadi urusan manusia. Dalam
pandangan filsafat Islam, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa pada
hakikatnya manusia adalah "Khalifah Allah di alam semesta ini "Khalifah
berarti kuasa atau wakil.
C. Tugas Pendidik
Pendidik
dalam islam bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dalam mengembangkan
potensinya dalam pencapaian tujuan dari aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik. Tugas seorang pendidik adalah mengembangkan profesionalitas diri
sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.Pendidik hendaknya mendidik
dan melatih peserta didik dan berkedudukan sebagai orag tua kedua dalam jangka
waktu tertentu. Tugas utama pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan serta
mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Alloh SWT.
Di
indonesia pendidik dikenal dengan guru, yaitu seseorang yang digugu dan ditiru
atau dipercaya dan diikuti, karena guru hendaknya memiliki seperangkat ilmu
yang memadai yang disertai wawasan dan pandangan yang luas dalam kehidupan,
selain hal tersebut juga berkepribadian yang utuh dalam segala tindak tanduk
karena dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan.
Tugas
guru adalah sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk
mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat.
Firman Alloh berkaitan dengan hal ini adalah :
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ
رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ
وَيُـعَلِّمُهُـمُاالكِتـاَبَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّـهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ
العَزِيْزُ الحَكِيْمُ (البقرة :129)
Artinya : “Wahai Tuhan
kami, Bangkitkanlah dari kalangan anak kami seorang rasul, yang membacakan
kepada mereka tentang ayat-ayat Mu, dan mengajari mereka tentang kitab dan
hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana.
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ
رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ : Wahai Tuhan kami, bangkitkan
dari kalangan anak
kami seorang rasul. Dalam ayat ini
Nabi Ibrahim dan Ismail memohon agar Alloh
seorang Rasul dari keturuan Ismail yang berserah diri kepada Alloh SWT,
akhirnya permohonan ini terkabul dengan diutusnya Khatamul Anbiya’ yaitu
Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia.
يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ : Yang membacakan kepada mereka tentang
ayat-ayat Mu. Maksud ayat ini adalah Seorang rasul yang menyeru manusia untuk
mengimani ayat-ayat yang mengandung penjelasan tentang tanda-tanda keesaan dan
kebesaran Allah atas alam semesta ini, serta mengimani ayat-ayat yang
menjelaskan bahwasanya kelak manusia akan dibangkitkan kembali untuk menerima
pembalasan atas amal perbuatannya selama di dunia. Segala hal ini merupakan
pelajaran bagi semua orang yang diberi bimbingan dan petunjuk oleh Allah SWT
menuju kebajikan dan kebahagiaan.
وَيُـعَلِّمُهُـمُاالكِتـاَبَ
وَالحِكْمَةَ : Dan mengajari mereka
tentang Kitab dan hikmah. Ayat ini menerangkan bahwasanya tugas seorang rasul
adalah mengajarkan manusia tentang al-qur’an serta rahasia-rahasia didalamnya,
da menjelaskan maksud syari’ah dengan tauladan melalui budi dan pekertinya,
baik dengan perkataan maupun perbuatan.
وَيُزَكِّـهِمْ: Serta
menyucikan mereka. Maksud ayat tersebut adalah supaya seorang rasul mampu
menyucikan jiwa-jiwa manusia dari perilaku syirik manusia terhadap segala
sesuatu, sehingga akan terbentuklah aturan-aturan bagi masyarakat. Selain hal
tersebut Untuk membiasakan melaksanakan amalan kebajikan yag akan menumbuhkan
kemampuan sekaligus mendatangkan keridhaan illahi.
: إِنَّكَ
أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ Sesungguhnya Engkulah Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. Maksud ayat ini adalah Allah SWT adalah dzat yang Maha Perkasa, Maha
Kuat, tidak terkalahkan dan Maha Bijaksana dalam segala hal terhadap seluruh
hamba-hambanya dan Allah tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
hikmah dan kemaslahatan umat.
Nabi Ibrahim pun menutup doa’a
beliau dengan memuji Asma Alloh SAW serta menyebutkan sifat-sifat Nya yang
sesuai dengan isi do’a beliau. Yaitu : Al- Aziz artinya Maha Perkasa, dan
kehendak Nya tidak bisa ditolak oleh siapa pun, Al-Hakim artinya Maha
Bijaksana, Yang melaksaanakan sesuatu dengan kebijaksanaan, sehingga tidak ada
seorangpun yang membantah hukum Nya.
D. Cara Meningkatkan Mutu Pendidikan
Untuk meningkatkan mutu pendidikan
kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan
pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu
pendidikan di lndonesia.
Menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu melesat maka
kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas mutlak diperlukan. Oleh
sebab itu pengenalan akan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi harus
dilakukan sedini mungkin.
Sadar akan hal itu pemerintah dengan segala
daya dan upayanya berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia, mulai dari perubahan kurikulum, standarisasi ujian nasional sampai dengan perhatian yang serius terhadap
kesejahteraan para pendidik. Usaha maksimal pemerintah tersebut adalah dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya.
Umar Tirta Raharja mengemukakan : “Bahwa
yang dimaksud dengan manusia utuh adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani,
manusia yang mempunyai hubungan vertikal ( dengan Tuhan ), horizontal (dengan
lingkungan ) dan konsentris ( dengan diri sendiri ) yang berimbang antara
duniawi dan ukhrawi.”
DR. Ahmad Tafsir dalam bukunya Metodologi Pengajaran Agama Islam menyatakan bahwa : “Tujuan pendidikan nasional Indonesia
menggambarkan kualitas manusia yang baik menurut bangsa Indonesia, bagi bangsa
Indonesia manusia yang baik ialah manusia pembangunan yang pancasilais, sehat
jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan
kreativitas dan bertanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh
tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi
pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan
yang termaksud di dalam UUD 1945.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, maka diupayakanlah suatu penyelenggaraan pendidikan yang bersifat formal mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Segala aktivitas yang berlangsung di dalamnya memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, seperti pendidik yang kompeten, laboratorium dan perpustakaan yang baik, lingkungan yang kondusif serta alat peraga yang mencukupi agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan maksimal.
Faktor
yang tak kalah pentingnya dalam mencapai tujuan pendidikan adalah siswa sebagai
peserta didik, karena meskipun fasilitas memadai namun jika peserta didik tidak
aktif dan kreatif dalam memanfaatkannya maka hasilnyapun akan sia-sia. Oleh
sebab itu diperlukan suatu formula agar peserta didik terstimulasi untuk lebih
pro aktif dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu dengan menumbuhkan
minat baca dikalangan siswa.
Dalam
konsepsi Islam membaca sangat dianjurkan karena dengan membaca maka cakrawala
berfikir akan terbuka dan jendela pengetahuan akan terkuak sehingga manusia
akan menemukan hal-hal baru untuk memecahkan masalah hidupnya dan dapat
menjalankan fungsinya sebagai khalifah dibumi ini dengan baik.
Dalam kaitannya dengan membaca ini
Allah SWT berfirman :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي
خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ
عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Artinya : “Bacalah dengan
nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia menciptakan manusia
dari segumpal darah (2) Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah (3) ( Al Alaq : 1-3)
Ayat ini dengan tegas
memerintahkan kepada manusia untuk membaca agar dapat menemukan keagungan Allah
SWT sehingga dengan demikian Allah akan memberikan kemurahanNya. Prof. DR. M.
Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ketiga dari surat Al Qalam diatas
berkata: “Kemurahan Allah dapat menghantarkan manusia yang mempelajari alam
raya ini untuk menemukan rahasia-rahasia alam yang baru serta berbeda dengan
ilmuwan terdahulu.
Sebagai
umat Islam tentu kita tidak mau dikatakan sebagai umat yang terbelakang dan
jumud serta dicap sebagai umat yang anti teknologi. Oleh karena itu sudah
menjadi kewajiban kita umat Islam untuk membuka cakrawala berfikir kita dengan
banyak membaca sehingga kita tidak akan tertinggal dengan umat lain. Melihat
akan pentingnya membaca tersebut maka sudah selayaknya apabila siswa-siswa
muslim di beri rangsangan agar lebih giat dalam membaca buku apapun yang
bermanfaat bagi manusia sehingga prestasi belajar mereka menjadi lebih baik.
Untuk
meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak
pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi
mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah ahli
itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.
Dalam
persfektif mikro atau tinjauan secara sempit dan khusus, faktor dominan yang
berpengaruh dan berkontribusi besar terhadap mutu pendidikan ialah guru yang
profesional dan guru yang sejahtera. Oleh karena itu, guru sebagai suatu
profesi harus profesional dalam melaksanakan berbagai tugas pendidikan dan
pengajaran, pembimbingan dan pelatihan yang diamanahkan kepadanya.
Dalam
proses pendidikan guru memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam
membimbing pesserta didik kearah kedewasaan, kematangan dan kemandirian,
sehingga guru sering dikatakan ujung tombak pendidikan. Dalam melaksanakan
tugasnya seorang guru tidak hanya menguasai bahan ajar dan memiliki kemampuan
teknis edukatif tetapi juga harus memiliki kepribadian dan integritas pribadi
yang dapat diandalkan sehingga menjadi sosok panutan bagi peserta didik,
keluarga maupun masyarakat.
Pendidik
dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan
mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam
dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik
agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.
E. KARAKTERISTIK PENDIDIK ISLAM
Luasnya
cakupan pendidikan dalam pengertian islam, membuat segala prosesnya harus
ditunjang dengan banyak hal yang itu meliputi seluruh klasifikasi-klasifikasi
demi mencapai cakupan yang luas tersebut, oleh karenanya karakteristik pendidik
islam memiliki ciri khas tersendiri dibanding pendidik-pendidik yang didasarkan
pada ajaran selain islam
Berikut ini beberapa
karkateristik-karakteristik yang telah di tetapkan oleh beberapa tokoh islam:
Al-Abrasy mengemukakan beberapa
karakteristik pendidik.
1. Seorang pendidik bersifat zuhud,
artinya melaksanakan tugasnya bukan semata-mata karena materi, melainkan
mendidik untuk mencari keridhaan Allah.
2. Seorang pendidik harus bersih
tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwanya, terhindar dari dosa, sifat
ria dengki, permusuhan, dan sifat –sifat tercela lainnya.
3. Seorang pendidik harus ikhlas
dalam menjalankan tugasnya dan memiliki sifat-sifat terpuji lainnya, seperti
rendah hati, jujur, lemah lembut, dan sebagainya.
4. Seorang pendidik mesti suka
memaafkan orang lain, terutama kesalahan peserta didiknya, lalu ia juga sanggup
menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar dan mempunyai harga
diri.
5. Seorang pendidik harus mencintai
peserta didiknya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan
keadaan mereka seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya.
6. Seorang pendidik harus mengetahui
karakter/tabiat peserta didiknya.
7. Seorang pendidik mesti menguasai
pelajaran yang ia berikan.
Sementara an-Nahlawi menyebutkan
beberapa karakteristik seorang pendidik, yaitu:
a. Mempunyai watak dan sifat
rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
b. Bersifat ikhlas; melaksanakan
tugasnya sebagai pendidik semata-mata untuk mencari ridha Allah dan menegakkan
kebenaran.
c. Bersifat sabar dalam mengajarkan
berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
d. Jujur dalam menyampaikan apa yang
diketahuinya.
e. Senantiasa membekali diri dengan
ilmu.
f. Mampu menggunakan metode mengajar
secara bervariasi sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode pendidikan.
g. Mampu mengelola kelas dan peserta
didik, tegas dalam bertindak dan proporsional.
h. Mengetahui kondisi psikis peserta
didik.
i. Tanggap berbagai kondisi dan perkembangan
dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berpikir peserta didik.
j. Berlaku adil terhadap peserta didiknya.
Ibnu Khaldun, dalam kitabnya Muqaddimah, juga berpendapat bahwa
seorang guru harus memiliki karakter yang baik. Dalam hal ini ia mengutip
wasiat al-Rasyd kepada Khalaf bin Ahmar, guru puteranya Muhammad al-Amin. Dari wasiat itu, dapat disimpulkan
bahwa setiap pendidik mesti bijaksana dalam mendidik anaknya, penuh kesabaran
dan kasih sayang serta tanggung jawab yang tinggi sehingga si anak memiliki
kompetensi di bidang yang ia ajarkan.
BAB III
KESIMPULAN
Pendidik
dalam islam bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dalam
mengembangkan potensinya dalam pencapaian tujuan dari aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik. Tugas seorang pendidik adalah mengembangkan profesionalitas
diri sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.Pendidik hendaknya
mendidik dan melatih peserta didik dan berkedudukan sebagai orag tua kedua
dalam jangka waktu tertentu. Tugas utama pendidik adalah menyempurnakan,
membersihkan serta mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Alloh SWT.
Di
indonesia pendidik dikenal dengan guru, yaitu seseorang yang digugu dan ditiru
atau dipercaya dan diikuti, karena guru hendaknya memiliki seperangkat ilmu
yang memadai yang disertai wawasan dan pandangan yang luas dalam kehidupan,
selain hal tersebut juga berkepribadian yang utuh dalam segala tindak tanduk
karena dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan.
Tugas
guru adalah sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk
mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin.
2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:
Kencana
Shihab, Quraish.
1987. Tafsir al-Amanah. Jakarta: Majalah Amanah
Tadjab, H.
1996. Dasar-Dasar Kependidikan Islam. Surabaya: Karya Aditama
M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir
al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati
Al-Fatah Jalal, Abd. 1977. Min
al-Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam. Mesir: Dar al Kutub
Hasan Langgulung, 1992. Asas-Asas
Pendidikan Aslam,Jakarta: Pustaka al-Husna
Ali Ashraf, 1989, Horison
Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus