Senin, 25 Maret 2013

Tugas Manusia dalam Meningkatkan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
   A. Latar Belakang
            Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan.
            Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan, kewajiban belajar, tujuan pendidikan dan subjek pendidikan.
            Keluasan Al-Quran dalam konsep pendidikan tersebut telah mendorong penulis untuk menggali salah satu dari konsep tersebut, untuk itu dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang salah satu konsep tersebut, yaitu yang berhubungan dengan subjek pendidikan dengan harapan dapat lebih memahami bagaimana subjek pendidikan menurut Al-Qur’an.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut :
   1.      Apakah pengertian dari pendidik ?
   2.      Bagaimana hakikat pendidikan islam?
   3.      Meliputi apa sajakah tugas seorang pendidik ?
   4.      Bagaimana cara meningkatkan mutu pendidikan?
   5.      Bagaimana karakteristik pendidik islam?


     C.  Tujuan Pembahasan
     Dari latar belakang diatas maka tujuan dari pembahasan dalam makalah ini sebagai berikut :
       1.       Dapat mengetahui pengertian dari pendidik .
       2.      Dapat mengetahui hakikat pendidikan islam .
       3.      Dapat mengetahui tugas seorang pendidik .
       4.      Dapat mengeetahui cara meningkatkan pendidikan .
       5.      Dapat mengetahui karakteristik pendidik islam .

    D.    Metode Penulisan Makalah
   Sesuai dengan tujuan penulisan yaitu mendiskripsikan masalah, maka dalam makalah ini penulis menggunakan metode study teks (studi keperpustakaan) yang merupakan kegiatan penelusuran dan menela’ah literature, yang melacak informasi dari buku, majalah, koran, intenet yang sangat diperlukan sebagai survei terhadap data yang sudah ada.

BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Pengertian pendidik
            Secara etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan. Kata tersebut seperti “teacher” artinya guru yang mengajar dirumah.
            Istilah pendidikan bisa kita temukan dalam Al-qur’an dengan istilah At-tarbiyah, At-ta’lim dan At-ta’dib, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata robb. Kata tarbiyah sendiri merupakan masdar dari fi’il robba-yurobbi, yang artinya, memimpin, memiliki mengumpulkan, memperbaiki, menambah, memelihara, mengasuh dan mendidik. Dapat kita ambil pemahaman, pengertian pendidik dalam islam adalah Murabbi, Mu’allim dan Mu’addib.
            Pengertian  Mu’allim  mengandung arti konsekuensi bahwa pendidik harus  mu’allimun  yakni menguasai ilmu, memiliki kreatifitas dan komitmen yang tinggi dalam mengembangkan ilmu.Sedangkan konsep ta’dib mencakup pengertian integrasi antara ilmu dengan amal sekaligus, karena apabila dimensi amal hilang dalam kehidupan seorang pendidik, maka citra dan esensi pendidikan Islam itu akan hilang.
            Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata  ustadz, Mudarris, Mu’allim  dan mu’addib. Secara keseluruhan kata-kata tersebut terhimpun dalam satu kata pendidik karena semua kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada orang lain.
Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:
    1.      Ahmad D. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.
    2.   Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidik dalam Islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
   3.   Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
   4.    Orang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua:
a.       Orang tua
b.      Orang tua disebut pendidik kodrati, karena mereka mempunyai hubungan darah dengan anak. Disebut juga orang yang menjadi pendidik pertama. Sebab secarea alami anak padan masa awal kehidupannya berada ditengah-tengah orang tuanya. Kalau orang tua sudah meninggal maka tugas ini digantikan oleh orang yang bertanggung jawab mendidik anak dalam keluarga, dikenal juga dengan istilah wali.
c.       Orang lain seperti Guru, Dosen, Pelatih, Pembimbing, juga masyarakat.
Dalam al-Qur’an Allah mencontohkan bagaimana nabi Isa belajar kepada khidhir   Sebagimana terdapat dalam surat al-Kahfi(18) ayat 66 .
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
Artinya: Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
            
           Dalam ayat ini Allah menyatakan maksud Nabi Musa as datang kepada Al Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Al Khidir dan berkata kepadanya: "Saya adalah Musa". Al Khidir bertanya: "Musa dari Bani Israel?" Musa menjawab: "Ya, benar! Maka Al Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata: "Apa keperluanmu datang kemari?" Nabi Musa menjawab, bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud supaya Al Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Al Khidir itu, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh.
            Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan itu berarti Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Al Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah Allah berikan kepadanya. Sikap yang demikian menurut Al Qadi, memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.
            Sejalan dengan tuntunan perkembangan manusia, orang tua dalam situasi tertentu atau sehubungan dengan bidang kajian tertentu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan anaknya. Untuk itu mereka melimpahkan tanggung jawab mereka kepada orang lain yang mereka anggap pantas dan professional. Pelimpahan itu bukan berarti tanggung jawab orang tua dalam pendidikan tidak ada lagi, justru disini orang tua benar-benar harus punya kemampuan dalam menyikapi perkembangan si anak. Dikarenakan banyaknya masalah yang mereka temui yang akan mempengaruhi perkembangan moral, emosional, dan kematangan berfikir anak.

   B.     Hakikat Pendidikan Islam
            Pendidikan yang dimaksud di sini merupakan upaya sadar yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sehingga pendidikan merupakan media yang dapat membantu manusia untuk mencapai tujuannya. Dengan pendidikan manusia akan mengetahui hakikat dirinya. Karena dalam pendidikan terdapat nilai-nilai dan konsep-konsep kebenaran dan keberadaan seorang itu sendiri.
            Allah  telah mendidik dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam, tersirat pengertian yang menyatakan bahwa manusia agar tetap memelihara kesucian asma` (pelajaran yang di ajarkan) Tuhan pendidik yang maha tinggi. Tuhan telah menciptakan (alam dan manusia), kemudian menyempurnakan proses penciptaanya. Tuhan telah memberikan batasan (menetapkan aturan-aturan, takaran, ukuran dan sebagainya di alam) dan kemudian memberi pertunjuk terhadap proses penyempurnaan ciptaan tersebut.
            Jadi pendidikan berarti mengembangkan potensi manusiawi di bawah pengaruh hukum-hukum Allah, baik al-Quran maupun Sunnah Allah, dan hal ini akan menghasilkan kebudayaan, yang terus menerus berkembang. Setiap generasi tua mewariskan kebudayaan pada generasi mudanya dan mengarahkannya agar kebudayaan tersebut berkembang.
            Dalam tujuan secara umum pendidikan Islam membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu mengerakan perkembangan manusia.
            Adapun istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada al-Tarbiyah, al-Ta'dib, al-Ta'lim. Dari ketiga istilah tersebut yang populer di gunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah al-Tarbiyah, sedangkan al-Ta'dib dan al-Ta'lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam. Istilah al-Tarbiyah berasal dari kata Rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau ekstiensinnya.
            Proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang di berikan Allah sebagai "pendidik" seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Pengertian pendidikan Islam yang dikandungkan dalam al-Tarbiyah, terdiri dari empat unsur pendekatan, yaitu:
1.      Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh)
2.      Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3.      Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4.      Melaksanakan pendidikan secara bertahap.

           Istilah al-Ta'lim adalah telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal di banding al-Tarbiyah mupun al-Ta'dib. Misalnya mengartikan al-Ta'lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.
       Sedangkan istilah al-Ta'dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan pada diri manusia . Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
            Dalam kata at-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuh, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan untuk manusia, akan tetapi juga digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah:
     a.    Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya.
     b.      Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.
      c.       Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil).
    d.      Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

          Dalam al-Qur`an ditegaskan bahwa Allah adalah Rabb al-'alamin, artinya adalah pendidik semesta alam dan juga pendidikan bagi manusia. Pengertian tersebut diambil karena kata Rabb dalam  arti Tuhan dan Rabb dalam arti pendidik berasal dari asal kata yang sama.
            Dengan demikian menurut al-Qur’an alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang dan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tersebut tidak lain kecuali Allah juga.  Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatmya adalah fungsi Tuhan dan mendidik adalah mengatur serta, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam dan manusia sekaligus. Kenapa kenyataan bahwa pendidik dan mendidik itu menjadi urusan manusia. Dalam pandangan filsafat Islam, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa pada hakikatnya manusia adalah "Khalifah Allah di alam semesta ini "Khalifah berarti kuasa atau wakil.

  C.     Tugas Pendidik
       Pendidik dalam islam bertanggung jawab terhadap  perkembangan peserta didik dalam mengembangkan potensinya dalam pencapaian tujuan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tugas seorang pendidik adalah mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.Pendidik hendaknya mendidik dan melatih peserta didik dan berkedudukan sebagai orag tua kedua dalam jangka waktu tertentu. Tugas utama pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan serta mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Alloh SWT.
            Di indonesia pendidik dikenal dengan guru, yaitu seseorang yang digugu dan ditiru atau dipercaya dan diikuti, karena guru hendaknya memiliki seperangkat ilmu yang memadai yang disertai wawasan dan pandangan yang luas dalam kehidupan, selain hal tersebut juga berkepribadian yang utuh dalam segala tindak tanduk karena dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan.
            Tugas guru adalah sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat. Firman Alloh berkaitan dengan hal ini adalah :
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ وَيُـعَلِّمُهُـمُاالكِتـاَبَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّـهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ (البقرة :129)
Artinya : “Wahai Tuhan kami, Bangkitkanlah dari kalangan anak kami seorang rasul, yang membacakan kepada mereka tentang ayat-ayat Mu, dan mengajari mereka tentang kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ : Wahai Tuhan kami, bangkitkan dari kalangan anak
kami seorang rasul. Dalam ayat ini Nabi Ibrahim dan Ismail memohon agar Alloh  seorang Rasul dari keturuan Ismail yang berserah diri kepada Alloh SWT, akhirnya permohonan  ini terkabul dengan diutusnya Khatamul Anbiya’ yaitu Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia.
يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ  : Yang membacakan kepada mereka tentang ayat-ayat Mu. Maksud ayat ini adalah Seorang rasul yang menyeru manusia untuk mengimani ayat-ayat yang mengandung penjelasan tentang tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah atas alam semesta ini, serta mengimani ayat-ayat yang menjelaskan bahwasanya kelak manusia akan dibangkitkan kembali untuk menerima pembalasan atas amal perbuatannya selama di dunia. Segala hal ini merupakan pelajaran bagi semua orang yang diberi bimbingan dan petunjuk oleh Allah SWT menuju kebajikan dan kebahagiaan.
وَيُـعَلِّمُهُـمُاالكِتـاَبَ وَالحِكْمَةَ : Dan mengajari mereka tentang Kitab dan hikmah. Ayat ini menerangkan bahwasanya tugas seorang rasul adalah mengajarkan manusia tentang al-qur’an serta rahasia-rahasia didalamnya, da menjelaskan maksud syari’ah dengan tauladan melalui budi dan pekertinya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
وَيُزَكِّـهِمْ: Serta menyucikan mereka. Maksud ayat tersebut adalah supaya seorang rasul mampu menyucikan jiwa-jiwa manusia dari perilaku syirik manusia terhadap segala sesuatu, sehingga akan terbentuklah aturan-aturan bagi masyarakat. Selain hal tersebut Untuk membiasakan melaksanakan amalan kebajikan yag akan menumbuhkan kemampuan sekaligus mendatangkan keridhaan illahi.
: إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ Sesungguhnya Engkulah Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maksud ayat ini adalah Allah SWT adalah dzat yang Maha Perkasa, Maha Kuat, tidak terkalahkan dan Maha Bijaksana dalam segala hal terhadap seluruh hamba-hambanya dan Allah tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hikmah dan kemaslahatan umat.
Nabi Ibrahim pun menutup doa’a beliau dengan memuji Asma Alloh SAW serta menyebutkan sifat-sifat Nya yang sesuai dengan isi do’a beliau. Yaitu : Al- Aziz artinya Maha Perkasa, dan kehendak Nya tidak bisa ditolak oleh siapa pun, Al-Hakim artinya Maha Bijaksana, Yang melaksaanakan sesuatu dengan kebijaksanaan, sehingga tidak ada seorangpun yang membantah hukum Nya.

   D.    Cara Meningkatkan Mutu Pendidikan
       Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia.
        Menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu melesat maka kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas mutlak diperlukan. Oleh sebab itu pengenalan akan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilakukan sedini mungkin.
           Sadar akan hal itu pemerintah dengan segala daya dan upayanya berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia, mulai dari perubahan kurikulum, standarisasi  ujian nasional sampai dengan perhatian yang serius terhadap kesejahteraan para pendidik. Usaha maksimal pemerintah tersebut adalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya.

Umar Tirta Raharja mengemukakan : “Bahwa yang dimaksud dengan manusia utuh adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang mempunyai hubungan vertikal ( dengan Tuhan ), horizontal (dengan lingkungan ) dan konsentris ( dengan diri sendiri ) yang berimbang antara duniawi dan ukhrawi.”

DR. Ahmad  Tafsir  dalam bukunya Metodologi Pengajaran Agama Islam menyatakan bahwa : “Tujuan pendidikan nasional Indonesia menggambarkan kualitas manusia yang baik menurut bangsa Indonesia, bagi bangsa Indonesia manusia yang baik ialah manusia pembangunan yang pancasilais, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan bertanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaksud di dalam UUD 1945.

            Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, maka diupayakanlah suatu penyelenggaraan pendidikan yang bersifat formal mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Segala aktivitas yang berlangsung di dalamnya memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, seperti pendidik yang kompeten, laboratorium dan perpustakaan yang baik, lingkungan yang kondusif serta alat peraga yang mencukupi agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan maksimal.
         Faktor yang tak kalah pentingnya dalam mencapai tujuan pendidikan adalah siswa sebagai peserta didik, karena meskipun fasilitas memadai namun jika peserta didik tidak aktif dan kreatif dalam memanfaatkannya maka hasilnyapun akan sia-sia. Oleh sebab itu diperlukan suatu formula agar peserta didik terstimulasi untuk lebih pro aktif dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu dengan menumbuhkan minat baca dikalangan siswa.
           Dalam konsepsi Islam membaca sangat dianjurkan karena dengan membaca maka cakrawala berfikir akan terbuka dan jendela pengetahuan akan terkuak sehingga manusia akan menemukan hal-hal baru untuk memecahkan masalah hidupnya dan dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah dibumi ini dengan baik.
Dalam kaitannya dengan membaca ini Allah SWT berfirman :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
Artinya : “Bacalah dengan nama  Tuhanmu  yang menciptakan (1) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah (3) ( Al Alaq : 1-3)

      Ayat ini dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk membaca agar dapat menemukan keagungan Allah SWT sehingga dengan demikian Allah akan memberikan kemurahanNya. Prof. DR. M. Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ketiga dari surat Al Qalam diatas berkata: “Kemurahan Allah dapat menghantarkan manusia yang mempelajari alam raya ini untuk menemukan rahasia-rahasia alam yang baru serta berbeda dengan ilmuwan terdahulu.
            Sebagai umat Islam tentu kita tidak mau dikatakan sebagai umat yang terbelakang dan jumud serta dicap sebagai umat yang anti teknologi. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita umat Islam untuk membuka cakrawala berfikir kita dengan banyak membaca sehingga kita tidak akan tertinggal dengan umat lain. Melihat akan pentingnya membaca tersebut maka sudah selayaknya apabila siswa-siswa muslim di beri rangsangan agar lebih giat dalam membaca buku apapun yang bermanfaat bagi manusia sehingga prestasi belajar mereka menjadi lebih baik.
         Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.
            Dalam persfektif mikro atau tinjauan secara sempit dan khusus, faktor dominan yang berpengaruh dan berkontribusi besar terhadap mutu pendidikan ialah guru yang profesional dan guru yang sejahtera. Oleh karena itu, guru sebagai suatu profesi harus profesional dalam melaksanakan berbagai tugas pendidikan dan pengajaran, pembimbingan dan pelatihan yang diamanahkan kepadanya.
            Dalam proses pendidikan guru memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam membimbing pesserta didik kearah kedewasaan, kematangan dan kemandirian, sehingga guru sering dikatakan ujung tombak pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru tidak hanya menguasai bahan ajar dan memiliki kemampuan teknis edukatif tetapi juga harus memiliki kepribadian dan integritas pribadi yang dapat diandalkan sehingga menjadi sosok panutan bagi peserta didik, keluarga maupun masyarakat.
            Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.

   E.     KARAKTERISTIK PENDIDIK ISLAM
            Luasnya cakupan pendidikan dalam pengertian islam, membuat segala prosesnya harus ditunjang dengan banyak hal yang itu meliputi seluruh klasifikasi-klasifikasi demi mencapai cakupan yang luas tersebut, oleh karenanya karakteristik pendidik islam memiliki ciri khas tersendiri dibanding pendidik-pendidik yang didasarkan pada ajaran selain islam
Berikut ini beberapa karkateristik-karakteristik yang telah di tetapkan oleh beberapa tokoh islam:
Al-Abrasy mengemukakan beberapa karakteristik pendidik.
  1.   Seorang pendidik bersifat zuhud, artinya melaksanakan tugasnya bukan semata-mata karena materi, melainkan mendidik untuk mencari keridhaan Allah.
   2.      Seorang pendidik harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwanya, terhindar dari dosa, sifat ria dengki, permusuhan, dan sifat –sifat tercela lainnya.
   3.     Seorang pendidik harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan memiliki sifat-sifat terpuji lainnya, seperti rendah hati, jujur, lemah lembut, dan sebagainya.
   4.   Seorang pendidik mesti suka memaafkan orang lain, terutama kesalahan peserta didiknya, lalu ia juga sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar dan mempunyai harga diri.
   5.   Seorang pendidik harus mencintai peserta didiknya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya.
    6.      Seorang pendidik harus mengetahui karakter/tabiat peserta didiknya.
    7.      Seorang pendidik mesti menguasai pelajaran yang ia berikan.

Sementara an-Nahlawi menyebutkan beberapa karakteristik seorang pendidik, yaitu:
    a.       Mempunyai watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
   b.      Bersifat ikhlas; melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata untuk mencari ridha Allah dan menegakkan kebenaran.
    c.       Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
    d.      Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya.
    e.      Senantiasa membekali diri dengan ilmu.
    f.   Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi sesuai dengan prinsip-prinsip penggunaan metode pendidikan.
    g.      Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak dan proporsional.
    h.      Mengetahui kondisi psikis peserta didik.
    i.     Tanggap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berpikir peserta didik.
    j.       Berlaku adil terhadap peserta didiknya.

      Ibnu Khaldun, dalam  kitabnya Muqaddimah, juga berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki karakter yang baik. Dalam hal ini ia mengutip wasiat al-Rasyd kepada Khalaf bin Ahmar, guru puteranya Muhammad al-Amin. Dari wasiat itu, dapat disimpulkan bahwa setiap pendidik mesti bijaksana dalam mendidik anaknya, penuh kesabaran dan kasih sayang serta tanggung jawab yang tinggi sehingga si anak memiliki kompetensi di bidang yang ia ajarkan.

BAB III
KESIMPULAN

            Pendidik dalam islam bertanggung jawab terhadap  perkembangan peserta didik dalam mengembangkan potensinya dalam pencapaian tujuan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tugas seorang pendidik adalah mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.Pendidik hendaknya mendidik dan melatih peserta didik dan berkedudukan sebagai orag tua kedua dalam jangka waktu tertentu. Tugas utama pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan serta mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Alloh SWT.
            Di indonesia pendidik dikenal dengan guru, yaitu seseorang yang digugu dan ditiru atau dipercaya dan diikuti, karena guru hendaknya memiliki seperangkat ilmu yang memadai yang disertai wawasan dan pandangan yang luas dalam kehidupan, selain hal tersebut juga berkepribadian yang utuh dalam segala tindak tanduk karena dijadikan sebagai panutan dan suri tauladan.
            Tugas guru adalah sebagai Warasatul anbiya’ : Misi rahmatan lil ‘alamin untuk mengajak manusia mematuhi segala aturan agama supaya selamat dunia dan akhirat.


DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:  Kencana

Shihab, Quraish. 1987. Tafsir al-Amanah. Jakarta: Majalah Amanah

Tadjab, H. 1996. Dasar-Dasar Kependidikan Islam. Surabaya: Karya Aditama

M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati

Al-Fatah Jalal, Abd. 1977. Min al-Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam. Mesir: Dar al   Kutub

Hasan Langgulung, 1992. Asas-Asas Pendidikan Aslam,Jakarta: Pustaka al-Husna

Ali Ashraf, 1989, Horison Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus